Oleh : Supartono JW

(Pengamat Pendidikan Nasional dan Sosial)

 

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-74 tinggal hitungan jam. Semoga seluruh rakyat Indonesia sudah memahami bahwa pemerintah RI setiap tahun merilis logo resmi dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Tahun ini, setelah dirilis, logo memiliki desain angka ’74’ dengan padu padan warna merah dan putih, yang telah menjadi warna khas bendera Indonesia.

Selain telah merilis logo, pemerintah juga merilis pemakaian slogan resmi yaitu ‘Menuju Indonesia Unggul.’ Inspirasi slogan tersebut mengikuti ungkapan Presiden RI saat ini. Ungakapan Presiden Joko Widodo adalah prioritas utama Indonesia ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia. Karenanya, terciptalah slogan yang mengusung tema ‘Menuju Indonesia Unggul’. Penempatan slogan ini terletak pada logo HUT RI ke 74, di bawah angka 74, diselipkan slogan resmi HUT RI.

Slogan ‘Menuju Manusia Unggul,’ tentu seiring sejalan dengan salah satu cita-cita kemerdekaan, yaitu  mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Amanat ini sangat terkait dengan pencapain kualitas sumber daya manusia (SDM). Apakah manusia Indonesia di alam kemerdekaan sudah menjadi manusia yang setara bersaing dengan bangsa lainya atau masih menjadi bangsa yang biasa-biasa saja, dan masih mewarisi mental manusia jajahan.

Slogan juga sesuai dengan Visi dan Misi Pilpres 2019 maupun pidato tentang Visi Indonesia di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi menjanjikan periode keduanya akan fokus pada peningkatan kualitas SDM. Setelah besar-besaran kita bangun infrastruktur di Tanah Air, tahapan besar dalam periode kedua pemerintahannya ialah pembangunan SDM.  Pembangunan SDM ialah kunci kemajuan bangsa.

Terlebih, di era revolusi industri 4.0 atau industri 4.0, pondasi utamanya adalah dengan  mempersiapkan manusia Indonesia sesuai roadmap making Indonesia 4.0. Adanya roadmap making Indonesia 4.0, tentunya akan menjadi pijakan untuk menyiapkan SDM Indonesia yang  langsung dapat bersaing dengan SDM bangsa lain, terutama  di era otomatisasi sistem produksi dengan memanfaatkan teknologi dan big data.

Menyiapkan SDM menjadi sangat vital, sebab skill dan pekerjaan yang ada saat ini belum tentu dibutuhkan dan cocok dengan kebutuhan masa depan yang makin meminimalisasi campur tangan manusia.Urgensi pembangunan  SDM, jelas menjadi faktor kunci  dalam upaya memenangkan persaingan global, yang otomatis membawa konsekuensi semakin ketatnya persaingan ditengah ketidakpastian, maka langkah strategis ini sudah selayaknya mendapatkan dukungan  penuh  dari seluruh  stakeholder terkait.

Penguatan SDM menuju manusia unggul juga memiliki korelasi yang erat dengan peningkatan produktivitas kerja, dalam memenangkan persaingan ditengah perubahan-perubahan yang berlangsung cepat dalam dunia bisnis, ekonomi politik dan budaya.

Yang pasti pembangunan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia bila mencermati data yang dikeluarkan Bank Dunia, dimana pada tahun 2018 Bank Dunia menyebutkan bahwa kualitas SDM Indonesia berada di peringkat 87 dari 157 negara. Sementara itu, di tahun yang sama, Business World memaparkan bahwa peringkat daya saing SDM Indonesia berada di ranking 45 dari 63 negara. Mirisnya lagi, Peringkat ini masih kalah dari dua negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia yang masing-masing berada diperingkat 13 dan 22.

Atas fakta dan data dari Bank Dunia dan Business World, maka slogan HUT RI ke-74 ‘Menuju Manusia Unggul,’ menjadi hal yang pas, sebab Indonesia kini berada dalam periode Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang benar-benar menuntut sumber daya manusia Indonesia yang terampil dan unggul  agar memiliki daya saing yang tinggi sehingga memiliki konstribusi dalam pembangunan bangsa.

 

Pendidikan ujung tombak

Untuk mewujudkan lahirnya SDM unggul dan berkualitas, sejatinya siapa yang berperan dan diharapkan akan menjadi ujung tombak tercapainya manusia unggul Indonesia? Jawabnya, tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti pendidikan menjadi kata kunci.

Mewujudkan SDM unggul, yang mampu menjawab perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sesuai harapan, tentu harus benar-benar tergaransi dalam praktik dan tindakan lapangan, bukan sekadar wacana sehingga benar-benar muwujud dan lahir putera-puteri terbaik bangsa yang memiliki potensi, kreatif, inovatif, skill, kemampuan, bakat-bakat yang tumbuh dan berkembang dalam segala bidang kehidupan, mental serta fisik yang kuat.

Namun harus disadari bahwa proses pendidikan ibarat sebuah percobaan yang tidak pernah selesai, akan dinamis hingga kapanpun sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga setiap saat manusia harus siap menghadapi  peradaban  yang terus berkembang. Oleh karena itu, cita-cita dan slogan HUT RI ke-74 ‘Menuju Indonesia Unggul,’ dan sesuai visi-misi pemerintahan Jokowi jangan sampai menjadi sekadar wacana.

Semua cita-cita menuju manusia unggul, akan tetap terkendala bila sistem pendidikan di Indonesia tidak dibenahi. Pendidikan jelas menjadi kunci dan pondasi untuk mengantar manusia Indonesia unggul, namun siapa yang akan berperan mendidik calon-calon manusia unggul Indonesia?

Jelas, para aktornya adalah guru dan dosen. Lalu, kurikulum pendidikan yang seiring sejalan sesuai jenjang dan kebutuhan, berikutnya sektor sarana dan prasarana, anggaran dll yang benar-benar siap bersaing di zaman revolusi industri 4.0. Bila pondasi pendidikan yang menjadi kunci lahirnya manusia unggul Indonesia ini tergarap dengan benar, maka garansi lahirnya cita-cita manusia unggul Indonesia bukan sekadar mimpi. Indonesia tidak harus terpuruk di bawah negara tetangga Singapura dan Malaysia, selalu.

Semoga di peringatan HUT RI ke-74 dengan slogan ‘Menuju Manusia Unggul,’ benar-benar akan lahir manusia unggul Indonesia. Aamiin. (*)