BERPRESTASI: Kabid Kebudayaan Disporyata, Eneng Sugiharti, Kasie Kebudayaan Disporyata Ahmad Fadilah, Ketua Umum IBS Kota Depok, Usep Kusnadi (tengah) bersama tim Official Pasanggiri Kreasi upacara adat Mapag Panganten Sunda Kota Depok, di Gedung Tecno Park Cimahi, 2-3 Juli Agustus 2019. insert: Piala dan Piagam penghargaan yang diraih tim Kota Depok. FOTO : AGUNG/RADARDEPOK
BERPRESTASI: Kabid Kebudayaan Disporyata, Eneng Sugiharti, Kasie Kebudayaan Disporyata Ahmad Fadilah, Ketua Umum IBS Kota Depok, Usep Kusnadi (tengah) bersama tim Official Pasanggiri Kreasi upacara adat Mapag Panganten Sunda Kota Depok, di Gedung Tecno Park Cimahi, 2-3 Juli Agustus 2019. insert: Piala dan Piagam penghargaan yang diraih tim Kota Depok. FOTO : AGUNG/RADARDEPOK

Alunan suara gamelan khas Sunda, terdengar sangat menyentuh hati. Ditambah luak-liuk gerakan puluhan penari mengiringi musik yang keluar dari bunyi gamelan, menandakan acara Pasanggiri Kreasi Upacara Mapag Panganten Sunda Ke-3 se-Jawa Barat Tahun 2019 dimulai.

Laporan: Muhammad Agung HR – Depok

Peran Kota Depok di bidang seni dan budaya terus melebarkan sayapnya, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Terbaru, Kota Depok meraih prestasi Juara Harapan II se-Jawa Barat, dalam event seni budaya di Kota Cimahi.

Pada giat tersebut, Ikatan Budaya Sunda (IBS) Kota Depok diamanahkan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) mewakili Kota Depok, dalam event Pasanggiri Kreasi Upacara Mapag Panganten Sunda Ke-3 se Jawa Barat Tahun 2019, yang berlangsung di Gedung Tecno Park Kota Cimahi, 2-3 Agustus 2019.

Ketua Umum IBS Kota Depok, Usep Kusnadi menyebutkan, pada acara tersebut tim terdiri dari 40 orang, mulai dari palang pintu, lengser, marawis, pemegang payung, pengantin, dan tim gamelan.

Rangkaian gelaran pasanggiri tersebut di antaranya, diawali dengan lengser mempersilakan pengantin menuju pelaminan, kemudian diikuti para penari sebanyak delapan orang didampingi pembawa payung diiringi tim marawis. Uniknya persembahan tim menampilkan palang pintu yang diselingi berbalas pantun. Sementara lagu yang dibawakan berjudul Renggong Buyut, Wilujeng Sumping, dan tari persembahan Pangdoa.

Setelah itu pengantin menuju pelaminan, diiringi tarian sebagai ungkapan selamat menempuh hidup baru kepada pengantin. Bila dihitung waktu, penampilan upacara adat mapag panganten ini sekitar 15 hingga 20 menit, sesuai aturan yang diberikan oleh panitia.

“Alhamdulillah tim Kota Depok meraih Juara Harapan II, menyisihkan 16 tim dari kota/kabupaten lain,” ungkap Usep kepada Radar Depok.

 

 

Sebelum tampil di tingkat Jawa Barat, tim Kota Depok mempersiapkan diri dengan latihan rutin selama dua minggu. Menurut Usep, konsep pada penampilan tersebut dari Galuh dan diracik oleh pakar seni upacara adat yaitu kang Kurniawan dan teh Heni Novianti. Sementara sutradaranya Usep Kusnadi.

Yang membuat optimis lanjut Usep, penampilan tim sangat sempurna dengan menampilkan kreasi khas Sunda Depok. Seperti palang pintu, marawis, serta pakaian adat Depok yang sudah di Perda-kan tidak dimiliki oleh tim lain.

“Karena tema event ini sesuai dengan apa yang dimiliki IBS, maka kami menyanggupi untuk tampil mewakili Kota Depok di acara itu. Akhirnya berlatih dan berangkat dengan hasil rekomendasi Disporyata,” terang Usep.

Ini menandakan bahwa perhatian Pemkot Depok terhadap perkembangan seni budaya di Indonesia ini sangat tinggi. Apalagi ketika perayaan Festival Depok dengan tema Rame-Rame Berbudaya, banyak sanggar yang dilibatkan.

“Kami ingin agar kreasi upacara adat Mapag Panganten bisa dijadikan sebagai upacara khas Mapag Panganten Kota Depok. Akan diusulkan ke pak Walikota Depok. Dan kami ucapkan terima kasih untuk Disporyata,” ucap Usep.

Setelah berhasil meraih Juara Harapan II di Jabar, agenda IBS selanjutnya akan bekerjasama dengan Radio MPM menyiapkan siaran radio berbahasa Sunda, yang berisi bobodoran (lawakan), kacapi suling, dongeng, hingga ngobrol tentang Kota Depok menggunakan bahasa Sunda.

“Telah disiapkan juga launching koperasi IBS, pasanggiri bagi guru dan umum, Raker, serta pasanggiri degung siswa SD, SMP, dan SMA se-Kota Depok,” ungkap Usep.

Terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disporyata Kota Depok, Eneng Sugiharti mengatakan, pada event Mapag Panganten Sunda ini selain IBS dilibatkan juga beberapa sanggar, yaitu Larasati, Janggala Manik, dan Mustika Cijago. Keempat lembaga tersebut berkolaborasi menciptakan kreasi Mapag Panganten Sunda khas Depok.

“Kenapa khas Depok? Karena Depok itu akulturasi budaya dari Betawi dan Sunda. Kreasinya ini betul-betul dipadukan, kemudian Disporyata memberikan dukungan berupa materil dan fasilitas lainnya untuk menyukseskan acara itu,” kata Eneng kepada Radar Depok.

Uniknya lanjut Eneng, pada Pasanggiri Kreasi Upacara Mapag Panganten Sunda ini Kota Depok tampil pada tanggal 2 Agustus menjadi Juara Harapan 2, dengan poin penilaian 2222. Nomor urutnya lima, dengan penampilan pada jam lima sore.

“Ya unik saja, angkanya bisa sama,” ucap Eneng semringah.

Eneng menilai, hasil yang dicapai tim Kota Depok di Jabar merupakan langkah awal yang baik. Karena baru pertama kali ikut sudah masuk nominasi, walaupun belum menjadi yang terbaik tetapi sudah masuk kategori baik.

“Dari 28 peserta Kabupaten/Kota, Alhamdulillah kami meraih Juara Harapan II. Persaingannya sangat ketat, apalagi Subang mengirimkan tiga tim,” tutur Eneng.

Atas raihan tersebut, tim berhak mendapatkan uang pembinaan, tropi piala, dan piagam penghargaan di tingkat Provinsi Jabar. Eneng berharap, ke depannya budaya khas Kota Depok betul-betul dilirik dan tidak dianggap enteng. Menjadi persaingan yang positif kompetitif, untuk meningkatkan kreasinya.

“Jadi ketika mendengar nama Depok, mereka sudah Wah. Artinya bisa diperhitungkan di tingkat Jabar. Karena Depok multi kultural, semua budaya yang ada di Kota Depok harus maju”. (*)