PENDAPAT : Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatatakan, panitia seleksi calon pimpinan (Pansel capim) KPK untuk bisa membuktikan integritasnya dan menerima masukan publik. FOTO : JAWA POS
PENDAPAT : Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatatakan, panitia seleksi calon pimpinan (Pansel capim) KPK untuk bisa membuktikan integritasnya dan menerima masukan publik. FOTO : JAWA POS

 

JAKARTA – Perbedaan sudut pandang antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan panitia seleksi calon pimpinan (Pansel capim) KPK  terus berlanjut. Kali ini, Juru Bicara KPK Febri Diansyah yang membuka suara. Menurutnya, Pansel harus bisa membuktikan integritasnya dan menerima masukan publik.

Hal itu karena, banyaknya harapan untuk tim yang diketuai oleh Yenti Ganarsih tersebut, untuk bisa memiliki calon komisioner lembaga antirasuah yang kredibel dan berintegritas.

“Pansel KPK cukup membuktikan integritas dan kinerjanya, dengan bekerja semaksimal mungkin memilih calon Pimpinan KPK yang kredibel dan berintegritas,” kata Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurut Febri, jika ada masukan dan kritik dari masyarakat, sebaiknya diterima dan didalami. Karena KPK pada dasarnya merupakan milik masyarakat Indonesia, dengan begitu bisa terus memiliki kecintaan publik terhadap KPK.

“Jadi, jika sekarang ada upaya yang luar biasa menjaga KPK, dan hal itu berimbas pada kritik yang keras pada Pansel Capim KPK setelah melihat 20 nama yang lolos di tahap profil asesmen, kami memandang itu adalah bentuk kecintaan publik terhadap KPK,” ucap Febri.

Mantan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) ini mengatakan, latar belakang calon yang berasal dari institusi manapun tidak menjadi persoalan untuk menjadi pimpinan KPK periode 2019-2023. Tetapi, yang paling penting adalah rekam jejak integritas.

“Jika ada catatan perbuatan tercela atau melanggar hukum, tentu wajar kita semua bertanya, apa pantas Pansel memilih calon tersebut?,” tegas Febri.

Sebelumnya, anggota Pansel Capim KPK, Hendardi  sempat memberi pernyataan keras atas kritik yang pernah dilontarkan pada pihaknya selama proses seleksi capim berjalan.

Pernyataan tersebut dilontarkan Hendardi sebagai jawaban atas tudingan adanya konflik kepentingan dalam seleksi capim. Dimana Hendardi dinilai punya kedekatan dengan capim tertentu dari unsul Polri.

“Itu hak menyampaikan pendapat, tidak saya pikirin alias EGP (Emang Gue Pikirin). Dari awal Pansel dibentuk mereka sudah nyinyir begitu. Integritas saya sudah dibangun lebih dari 3 dasawarsa sejak saya jadi pimpinan mahasiswa. Mungkin sebagian dari mereka ketika itu masih menyusu atau belajar prakarya,” tukas Hendardi. (jwp/rd)

 

Editor : Pebri Mulya