KULIAH UMUM: Sekolah Tinggi Theologi (STT) “IKAT”, Prodi Theologi – Prodi Pendidikan Agama Kristen menggelar kuliah umum, yang berlangsung di gedung STT IKAT, Jalan Rempoa 2 Bintaro, Pesanggrahan, Tangerang Selatan, kemarin (15/8). FOTO : AGUNG/RADAR DEPOK
KULIAH UMUM : Sekolah Tinggi Theologi (STT) “IKAT”, Prodi Theologi – Prodi Pendidikan Agama Kristen menggelar kuliah umum, yang berlangsung di gedung STT IKAT, Jalan Rempoa 2 Bintaro, Pesanggrahan, Tangerang Selatan, kemarin (15/8). FOTO : AGUNG/RADAR DEPOK

 

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Sekolah Tinggi Theologi (STT) “IKAT) Prodi Theologi – Prodi Pendidikan Agama Kristen menggelar kuliah umum, yang berlangsung di gedung STT IKAT, Jalan Rempoa 2 Bintaro, Pesanggrahan, Tangerang Selatan, kemarin (15/8).

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Charge D’Affaires Al Of The Embassy Of Azerbaijan, Ruslan Nasibov, Penulis dan Jurnalis, Nia S. Amira, Pembantu Rektor I, Lasino, Dosen Statistika, Ester Ekarista Sinambela, Donna, dan ratusan mahasiswa STT IKAT. Kuliah umum kali ini diselingi dengan penampilan tarian khas daerah Betawi yang dibawakan para mahasiswa STT IKAT. Dalam kuliah umum ini paling banyak dibahas tentang Literasi.

“Kami memiliki 100 persen literasi umum di negara kami, memiliki 38 universitas negeri, 11 universitas swasta dan ribuan sekolah. Banyak dari sekolah tersebut telah di renovasi, kami memiliki program sosial intensif dan pemerintah mendukung pendidikan. Berdasarkan hukum anak-anak umur 6-15 tahun harus sekolah, pendidikan menengah adalah sebuah keharusan,” ungkap Charge D’Affaires Al Of The Embassy Of Azerbaijan, Ruslan Nasibov kepada Radar Depok.

Selain itu lanjut Ruslan, perbedaan literasi di Indonesia dengan di Azerbaijan, salah satunya yaitu bahasa nasional adalah bahasa Azerbaijan, tetapi untuk pendidikan di sana memiliki bahasa Rusia dan bahasa Inggris. Ditambah lagi mereka memiliki universitas terkemuka, dan ada universitas tertua yaitu Universitas Negeri Baku.

“Kami saat ini merayakan 100 tahun Universitas Negeri Baku. Pada 1920, kami membangun Technical University, jadi kami punya semua bidang yang maju, begitu juga banyak pendidikan vokasi. Sehingga mempersiapkan lapangan pekerjaan. Saya bukan pengajar profesional, tapi yang saya pelajari adalah membaca dan menulis harus bersamaan,” terang Ruslan.

Penulis yang juga sebagai Jurnalis, Nia S. Amira menyebutkan, literasi berasal dari kata Literatus yaitu orang yang belajar, penting bagi pembangunan mental bangsa. Sementara critical thinking atau berpikir secara kritis sangat diperlukan dalam proses literasi, sehingga proses tulis-menulis menghasilkan suatu karya yang bermutu.

“Berpikir kritis bukan berarti mengkritik seseorang, tetapi melakukan proses pemikiran, analisa, dan penulisan secara kritis,” tegas Nia.

Selain itu, hubungan budaya literasi dan keterampilan berpikir kritis. Kegiatan budaya literasi merupakan kegiatan yang saat ini menjadi gerakan nasional pemerintah yang fokus pada beberapa aspek, sehingga mudah dikembangkan dan diimplementasikan pada lingkungan pendidikan, keluarga, maupun masyarakat.

“Salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan literasi seseorang adalah kemampuan berpikir kritis,” tegas Nia.

Dosen Statistika STT IKAT, Ester Ekarista Sinambela menambahkan, kegiatan kuliah umum ini sangat memotivasi mahasiswa. Menurutnya, literasi itu tidak hanya membaca tetapi yang utamanya adalah menulis. Karena dengan menulis sudah pasti membaca, sedangkan membaca belum tentu menulis. Ia berharap, adanya kuliah umum ini mahasiswa STT IKAT terpacu untuk bisa menulis, karena sebagian mahasiswa sudah memiliki bakat menulis.

“Yang mengikuti kegiatan ini sekitar seratus mahasiswa lebih, sebagian lagi sedang aktif kuliah. Kami harap para mahasiswa STT IKAT terpacu untuk bisa menulis,” harap Ester.

Ia mengaku baru kali ini mengundang nara sumber dalam tema literasi. Apalagi terjadi interaktif antara pembicara dengan peserta atau mahasiswa. Poin pentingnya lanjut Ester, seluruh mahasiswa termotivasi untuk menulis.

Pembantu Rektor I STT IKAT, Lasino mengatakan, terdapat beberapa mata kuliah yang dapat dihubungkan dengan literasi, karena mereka mempunyai latar belakang dari beberapa daerah. Saat ini baru sebatas penyampaian tulisan kepada mahasiswa yang berasal dari daerah atau kisah yang terjadi di tempat mahasiswa. Kemudian hal itu dihubungkan dengan Alkitab atau peristiwa yang ada di Alkitab maupun sejarah tentang kekristenan, lalu mereka bisa menulis secara urut.

“Pada akhirnya mereka bisa menulis menjadi sebuah karya yang diberikan kepada dosennya, dan kemudian diberikan nilai,” ungkap Lasino.

Ia menilai, harus ada yang menjadi motivasi terhadap mahasiswa agar menghasilkan karya. Misalnya setiap tulisan mahasiswa dapat dikirimkan ke penerbit, hingga tercipta ruang untuk menyampaikan karya. “Ini menjadi salah satu pendorong bagi mahasiswa agar lebih aktif menulis. Apalagi setiap tulisan ada hadiah atau mungkin bercerita sesuatu nanti ada kelompoknya, hingga mereka bisa berdiskusi, ini kan menarik,” tutur Lasino. (rd)

 

Jurnalis : M Agung HR

Editor : Pebri Mulya