Oleh: Erik Kurniawan, S.Sos., M.Pd*)

Guru ASN di SMPN 17 Depok

 

Keprihatinan yang mendalam dan bercampur sedih atas apa yang dialami saudara-saudara kita di Papua. Patut kita menyayangkan dan mengutuk keras terhadap oknom yang melontarkan kata-kata rasis. Karena lontaran kata rasis tersebut memunculkan rasa ketersinggungan bagi saudara kita orang-orang Papua. Pun, apabila itu terjadi dan dialami oleh suku-suku lainnya, pastinya akan menyulut kemarahan atas sebuah penghinaan yang dialami. Sesungguhnya oknum yang berujar tetang rasisme tidak paham sejarah akan perjuangan mempersatukan bangsa ini. Bagi siapa saja yang sadar toleransi dan betapa majemuknya bangsa Indonesia akan merasa muak dengan perilaku tersebut. Tensi yang begitu tegang tersebut memiliki dampak serius bagi persatuan, kerukunan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Sungguh ironis hal tersebut masih terjadi disaat bangsa ini sudah beranjak diusia 74 tahun. Usia yang sudah bukan lagi belia, namun seharusnya sudah matang dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa. Tindakan atas dasar nasionalisme sempit justru mampu menjerumuskan pada sikap dan perilaku primordialisme. Fenomena sosial tersebut diperparah dengan munculnya berita-berita tidak pada tempatnya. Ujaran kebencian, persekusi, meme-meme yang mendiskriditkan, dan bullying masih dapat kita temui diberbagai jejarang sosial dan portal berita abal-abal.

Hal tesebut seharusnya membuat seluruh anak bangsa ini merasa sedih dan gelisah. Dalam dunia pendidikan guru bersusah payah mengajarkan dan membentuk anak didiknya cinta tanah air, tenggang rasa, toleransi, rukun antar masyarakat justru disuguhi fakta sosial yang penuh kegaduhan. Berita dan video viral seharusnya menjadi tuntunan dan teladan, namun tidak sedikit akhirnya jadi tontonan yang tidak layak dicontoh.

Di balik peristiwa itu semua, hati merasa teduh melihat anak didik di sekolah. Mereka jauh dari sebuah kepentingan untuk menjatuhkan kawan maupun lawan. Teloransi yang hakiki telah mereka jalankan dan praktekkan di dalam sekolah. Mereka berinteraksi tidak tersekat dengan subuah perbedaan suku, agama maupun tingkat ekonomi. Candaan siswa menunjukkan arti penting sebuah sebuah persahabatan sejati. Pendidikan diselenggarakan dalam rangka untuk melatih dan membentuk karakter siswa agar mampu bersikap dan bertindak demokratis, humanis, pluralis dalam lingkungan sekitar tempat mereka tinggal maupun di lingkungan sekolah.

Sulit menemukan seorang siswa tidak mau berteman karena perbedaan suku maupun agama. Meskipun pada dasarnya setiap anak menginginkan menjadi siswa berpretasi dengan nilai yang tinggi. Namun persaingan dan perbedaan itu melebur ketika mereka menjadi satu kelompok belajar atau satu kelompok dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Toleransi sudah mereka tunjukkan dalam bentuk kerjasama disetiap organisasi-organisasi extra kurikuler yang ada di sekolah seperti : OSIS, Paskibra, Pramuka, PMR, Rohis dan lain-lain.

Dalam hal pemilihan dan pembentukan struktur organisasi-organisasi extra kurikuler, siswa tidak ada yang merasa dibedakan satu sama lain. Semua mendapatkan kesempatan dan peluang yang sama. Pun dalam kegiatan memeriahkan HUT ke-74 RI, peserta didik mengikuti berbagai cabang perlombaan dengan penuh kebersamaan. Beberapa perlombaan  menuntut kerjasama tim, dan mereka menunjukkan kegembiraan karena menang atau kalah bukan sebuah tujuan utama. Arti sebuah pertemanan dan tujuan yang sama menggapai cita-cita menghilangkan sekat apa yang disebut suku, agama dan tingkat ekonomi. Tidak pernah sedikutpun mereka  mengagungkan dirinya sendiri bahwa saya orang Betawi, saya orang Jawa, saya orang Sunda, saya orang Batak dll. Tidak pernah ditemui anak mencibir agama temannya yang berbeda keyakina dengan membusungkan dada bahwa agamanyalah paling benar dan yang lain salah.

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 hampir setiap pekan dibaca oleh petugas upacara dan didengarkan dengan seksama peserta upacara. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan hormat kepada dwi warna kita Sang Saka Merah Putih selalu siswa laksanakan setiap kali upacara bendera. Janji siswa mereka ucapkan dan kumandang setiap hari senin. Janji itu sejatinya merupakan sebuah pernyataan akan kewajiban mereka untuk melakukan perbuatan terbaik bagi dirinya sendiri, keluarga, sekolah dan bangsa negaranya.

Dari sekolah kami menyeru kepada siapapun yang tinggal di bumi pertiwi Indonesia yang kita cintai, contohlah para generasi penerus bangsa ini yang duduk dibangku sekolah. Di ruang-ruang kelas mereka telah memberi teladan arti sebuah toleransi dan tenggang rasa. Toleransi yang sejati tanpa basa basi untuk mencari simpati. Toleransi mereka tidak membutuhkan sebuah pengakuan, namun dibuktikan dan dipraktekkan dalam interaksi dan sosialisasi di dalam kelas dan lingkungan sekolah. (*)