CICIL : Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bersama pejabat Kemenkeu usai konferensi pers, realisasi APBN 2019, Jakarta, Senin (26/8). Per Juli 2019, keseimbangan primer tercatat negatif Rp 25,08 triliun. FOTO : JAWA POS
CICIL : Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bersama pejabat Kemenkeu usai konferensi pers, realisasi APBN 2019, Jakarta, Senin (26/8). Per Juli 2019, keseimbangan primer tercatat negatif Rp 25,08 triliun. FOTO : JAWA POS

 

JAKARTA – Hingga akhir Juli 2019 realisasi pembiayaan utang yang tercatat di Kementerian Keuangan mencapai Rp 234,1 triliun atau 65 persen dari target APBN 2019. Rinciannya, berdasarkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 241,19 triliun (62 persen dari target APBN), dan dari pinjaman negatif sebesar Rp7,06 triliun (23,8 persen dari target APBN).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman menjelaskan, kenaikan realisasi SBN neto merupakan bagian dari strategi pre-funding pemerintah. Hal ini dilakukan karena memanfaatkan situasi pasar keuangan yang masih kondusif.

“Strategi ini memanfaatkan situasi pasar keuangan di semester-I yang kondusif. Termasuk juga ketersediaan likuiditas di pasar global yang cukup berlimpah di semester-I 2019. Ini yang menyebabkan pembiayaan utang kita masih sangat on track,” kata Luky di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (26/8).

Sedangkan, realisasi pinjaman yang mencapai angka negatif, disebabkan oleh realisasi pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri yang lebih besar daripada penarikan pinjaman luar negeri. Namun, untuk pinjaman dalam negeri, penarikan pinjaman lebih besar dibandingkan pembayaran cicilan pokok.

Sebagaimana diketahui, realisasi pinjaman per 31 Juli 2019 sebesar Rp 7,06 triliun atau 23,8 persen dari target APBN 2019 yang sebesar Rp 29,7 triliun. Sedangkan pemerintah telah membayarkan sebesar Rp 47,04 triliun (52 persen dari target APBN cicilan pokok pinjaman).

Sementara itu, penarikan pinjaman dalam negeri telah mencapai Rp 0,75 triliun (38,5 persen dari target APBN) dan penarikan pinjaman luar negeri mencapai Rp 39,81 triliun (66,0 persen target APBN). Per Juli 2019, posisi keseimbangan primer tercatat berada pada posisi negatif sebesar Rp 25,08 triliun. (jpw/rd)

 

Editor : Pebri Mulya