KREATIF: Pengrajin rajut asal Depok, Hepty Brifianti sekaligus pemilik Rumah Rajut Pepitto Miyo sedang merajut baju di halaman rumahnya yang berlokasi di Bukit Rivaria, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan. FOTO : SANI/RADAR DEPOK
KREATIF : Pengrajin rajut asal Depok, Hepty Brifianti sekaligus pemilik Rumah Rajut Pepitto Miyo sedang merajut baju di halaman rumahnya yang berlokasi di Bukit Rivaria, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan. FOTO : SANI/RADAR DEPOK

 

Perempuan-perempuan di era milenial seperti saat ini, bukan lagi yang hidup ketergantungan pada pria. Bahkan tak sedikit dari mereka lebih mapan dari para laki-laki. Seperti Hepty Brifianti, salah satu perempuan masa kini yang sudah meraup jutaan rupiah dari  hasil merajut.

LAPORAN : NUR APRIDA SANI

Hepty Brifianti atau yang kerap disapa Pepi ini merupakan seorang pengrajin rajut yang tenar di media sosial Instagram. Namanya melambung bukan hanya di Depok, tetapi sampai luar Indonesia.

Hasil rajutannya yang terkenal adalah sepatu boots. Walaupun harganya terbilang cukup mahal kisaran Rp350 ribu-Rp 1 jutaan. Tapi tidak mengurangi niat para pelanggannya untuk memesan barang-barang rajutan hasil tangan dinginnya.

Berbeda dari pengrajin rajut lainnya, sepatu buatan Pepi ini diklaim 100 persen handmade. Karena sepasang sepatu itu bisa memakan waktu pengerjaan hingga satu atau dua minggu.

“Biasanya kan ada yang pakai bahan plastik juga lalu ditempel benang rajut, kalau saya mah tidak benar-benar benang semuanya,” terang Pepi.

Pelanggan Pepittomiyo lumayan banyak. Dari sabang sampai merauke. Bahkan dia pernah mendapatkan pesanan dari warga negara Indonesia yang menetap di China. Lalu ada juga permintaan sepatu boots yang bakal digunakan saat musim dingin di Korea.

“Banyak yang bilang kalau sepatu boots buatan saya ini tahan dingin sampai minus dibawah 10 derajat celcius, jadi sudah terbukti tahan dingin,” ujar ibu satu anak ini.

Merajut merupakan suatu kegiatan yang mengasyikan. Lihat saja Pepi bisa lupa diri kalau sudah main dengan benang dan seperangkat alat rajutnya tersebut. Tidak hanya di rumah, di sekolah pun saat menunggu anaknya di pelataran kelas dia sempatkan untuk merajut.

Perempuan 47 tahun ini mewariskan kemampuan sang nenek di seni rajut. Dia ingin mendorong perkembangan rajut sampai mendunia dan disuka oleh banyak orang. Sampai saat ini pemasaran hasil rajutannya hanya melalui media sosial dan mulu ke mulut.

Dia bercita-cita ingin memiliki galeri untuk memajang dan menjual hasil rajutannya tersebut bersama sang suami. Pasalnya suaminya yang bernama Bondo Teguh juga seorang designer untuk baju, topi, jaket, dan lain sebagainya.

“Mudah-mudahan bisa tercapai impian untuk buka toko yang bisa menjual semua hasil rajutan dan juga media untuk masyarakat belajar cara merajut,” harap Pepi. (*)

 

Editor : Pebri Mulya