BELUM MAKSIMAL : Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Arif Rahman Hakim yang diterapkan Sisterm Satu Arah (SSA), Minggu (25/8). Penerapan jalur SSA tersebut dinilai masih kurang maksimal mengurangi kemacetan, maka dari itu pemerintah Kota Depok akan memberlakukan sistem Contra Flow pada pekan depan. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BELUM MAKSIMAL : Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Arif Rahman Hakim yang diterapkan Sisterm Satu Arah (SSA), Minggu (25/8). Penerapan jalur SSA tersebut dinilai masih kurang maksimal mengurangi kemacetan, maka dari itu pemerintah Kota Depok akan memberlakukan sistem Contra Flow pada pekan depan. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sistem Satu Arah (SSA) di Kota Depok masih terus disempurnakan. Pemerintah juga bakal merubah manajemen rekayasa lalulintas di jalan Arif Rahman Hakim, yang sebelumnya SSA menjadi contra flow.

Kebijakan tersebut karena adanya perubahan headway (jarak waktu) antar kereta mencapai 3-5 menit.

Sementara Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan selama transportasi umum tidak ditata, model manajemen apapun tidak akan selesaikan masalah di Depok. “Akar masalah kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas di kota-kota di Indonesia, termasuk Kota Depok karena pemerintah setempat tidak mau menata transportasi umum,” kata Djoko.

Menurutnya semakin lama tidak menata transportasi umum akan semakin menambah masalah. “Memang menata angkutan umum tidak sekedar sediakan sarananya saja urusan selesai, apalagi masih beroperasi angkutan model manajemen lama yang sulit diajak kompromi juga jadi masalah,” kata Djoko.

Menurutnya selain menyediakan sarana angkutan umum yang nyaman harus disediakan, juga diperlukan prasarana pendukung, seperti halte, jalur kendaraan tidak bermotor (trotoar dan jalur sepeda), bahkan perangkat IT.

“Belum lagi harus menyiapkan kelembagaan baik di regulator maupu operator,” kata Djoko.

Berdasarkan Pantauan Radar Depok, di beberapa ruas jalan Kota Depok masih terus terjadi hingga malam hari. Padahal sudah diberlakukan SSA, namun ribuan kendaraan roda empat terus memadati tiga jalur SSA tersebut.

Data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok tahun 2019, kendaraan roda empat yang melintas di tiga jalur ini mencapai 2.372 per/jam. Kendaraan berjalan perlahan di ruas jalan SSA dari arah Sawangan menuju Jalan Dewi Sartika, Jalan Margonda dan atau Jalan flyover Arif Rahman Hakim, akibat melonjaknya volume kendaraan.

Sementara Dishub Kota Depok terus berinovasi memecahkan kemacetan terjadi di Kota Depok. Terbaru kemarin, dalam waktu dekat Dishub akan memberlakukan perubahan contra flow pada SSA, di Jalan Arif Rahman Hakim (ARH).

Kepala Dishub Depok, Dadang Wihana mengatakan, kedepan Jalan Dewi Sartika diperkirakan akan padat, dengan adanya perubahan waktu rail way (RW) kereta api. Semula lima menit sekali kereta api melintas, kini menjadi dua sampai tiga menit. Otomatis akan menambah kepadatan arus lalulintas di Jalan Dewi Sartika, karena dilalui pintu perlintasan kereta api.

“Nanti RW Kereta Api akan berlangsung setiap dua sampai tiga menit sekali, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan kepadatan kendaraan yang akan melintasi perlintasan kereta,” kata Dadang.

Maka dari itu, pihaknya kini tengah memersiapkan solusi agar perubahan RW kereta api tersebut, tidak menimbukan kemacetan parah nantinya. Salah satu solusi yang akan diberlakukan adalah dengan memaksimalkan contra flow di Jalan Arif Rahman Hakim.
“Saat ini sudah ada contra flow di sana, tapi hanya berlaku sejak pukul 16:00 hingga 22:00 WIB, itupun jalurnya hanya satu” katanya.

Maka dari itu, nantinya Jalan Arif Rahman Hakim akan dibagi menjadi beberapa jalur dan durasi contra flow di sana pun akan diperpanjang. “Perubahan di Arif Rahman Hakim nantinya akan kita buat beberapa jalur, dan durasinya menjadi 24 jam,” bebernya.

Dia menuturkan, perubahan jalur antara lain di kawasan Ramanda akan dibuat dua jalur sampai BNI. Lalu dari BNI ke arah timur akan dibuat dua jalur juga, serta dari BNI ke sebelah barat akan dibuat tiga jalur.

“Dengan perubahan jalur dan waktu contra flow nantinya kendaraan dari arah Beji bisa langsung ambil kiri,” tuturnya.

Dia  menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum nantinya melakukan uji coba. Ini agar warga tidak kebingungan jika sistem tersebut nantinya diterapkan. “Waktu uji cobanya 31 Agustus, tapi yang pasti waktu uji coba akan dilakukan selama satu bulan penuh evaluasi,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto

Editor : Pebri Mulya