TENAGA PENGAJAR: Tim dari Sanggar Ayodya Pala menjadi tenaga pengajar tari tradisional Indonesia, di ruang Serbaguna, Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. FOTO : AYODYA PALA FOR RADAR DEPOK
TENAGA PENGAJAR : Tim dari Sanggar Ayodya Pala menjadi tenaga pengajar tari tradisional Indonesia, di ruang Serbaguna, Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. FOTO : AYODYA PALA FOR RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Tim dari Sanggar Ayodya Pala menjadi tenaga pengajar tari tradisional Indonesia, di ruang Serbaguna, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri (Pusdiklat Kemenlu) RI, Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pusdiklat Kemenlu tengah menyelenggarakan Diklat Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) Angkatan 41, mulai 29 April hingga Oktober 2019. Peserta diklat adalah 98 orang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemenlu yang diproyeksikan akan diangkat sebagai diplomat.

“Alhamdulillah tim Ayodya Pala dipercaya menjadi tenaga pengajar tari tradisional Indonesia dalam kegiatan di Kemenlu RI. Pertemuan pertama itu Jumat 30 Agustus 2019, dan selanjutnya ada pertemuan kedua pada Jumat 13 September 2019 di lokasi yang sama,” ungkap Pimpinan Sanggar Tari Ayodya Pala, Budi Agustinah.

Selain itu lanjut Etin—sapaan akrab Budi Agustinah—menilai, guna mendukung tugas dan fungsi sebagai diplomat, peserta diklat perlu dibekali dengan keterampilan yang mendukung pelaksanaan tugas diplomasi, salah satunya penguasaan tari tradisional Indonesia. Diketahui, sanggar Ayodya Pala yang terletak di Ruko D’Mall Depok Jalan Raya Margonda ini telah melahirkan ribuan penari berbakat, yang sudah tampil di tingkat nasional hingga internasional.

“Hal ini juga dimaksudkan guna mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi, sebagai diplomat dalam hal promosi kebudayaan Indonesia,” terangnya.

Senada, Direktur Sanggar Ayodya Pala, Baas Cihno Sueko mengatakan, salah satu tarian yang diajarkan yaitu tari Las Roha dari Sumatera Utara. Baas menilai, sebagai calon diplomat mereka harus mengerti tentang seni tradisional, khususnya seni tari.

“Seni budaya sarana yang ampuh untuk berkomunikasi dengan negara lain, yaitu komunikasi antar bangsa,” ucap Baas kepada Radar Depok.

Baas melanjutkan, kepercayaan yang diberikan dari Kemenlu menunjukkan pengakuan bahwa sanggar Ayodya Pala memang diakui kiprahnya, baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum.

“Dampak lainnya Kota Depok pun lebih dikenal. Komunikasi kebudayaan yang diciptakan tentunya akan mampu menghadirkan nilai plus di mata dunia internasional, apalagi Indonesia sangat kaya akan nilai-nilai seni dan budayanya. Kami pun sangat mengapresiasi atas apa yang telah diamanahkan Kemenlu RI kepada Ayodya Pala,” pungkas Baas. (rd)

 

Jurnalis : M. Agung HR

Editor : Pebri Mulya