DIBENAHI : Pekerja mengangkut pembatas jalan di kawasan  Jalan Arif Rahman Hakim, Minggu (8/9). Jalan tersebut kembali diberlakukan Sistem Satu Arah (SSA). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
DIBENAHI : Pekerja mengangkut pembatas jalan di kawasan  Jalan Arif Rahman Hakim, Minggu (8/9). Jalan tersebut kembali diberlakukan Sistem Satu Arah (SSA). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Kebijakan contraflow (lawan jalur) di Jalan Arif Rahman Hakim, untuk sementara dihentikan, mulai Minggu (8/9). Langkah itu diambil karena sistem ini dinilai kurang efektif. Dengan demikian, Sistem Satu Arah (SSA) di lokasi tersebut kembali diberlakukan.

Kepala Satlantas Polresta Depok, Kompol Sutomo mengatakan, ujicoba contraflow terpaksa dihentikan karena dinilai merugikan masyarakat. Khususnya pengguna kendaraan umum.

Sehingga pihaknya mengambil langkah diskresi kepolisian dengan membuka jalur contraflow. “Arus lalulintas sangat padat berada di Jalan Raya Margonda sebagai titik temunya kendaraan. Dengan adanya contraflow itu macet sampai jam 1 dini hari, untuk itu kami lakukan kembali SSA,” kata Sutomo kepada Radar Depok, Minggu (8/9).

Menurut Sutomo, penerapan SSA dianggap lebih efektif ketimbang contraflow. Terbukti dengan SSA kemacetan kendaraan di Jalan Raya Margonda terjadi penurunan. Dan semenjak diberlakukan contraflow malah berdampak sebaliknya.

“Tolak ukur keberhasilan mengatasi kemacetan adalah di Jalan Margonda yang lancar,” tegasnya.

Langkah Diskresi yang diambil, tertuang dalam Pasal 18 ayat 1 UU No.2/2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dimana pasal ini berbunyi, sesuai kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia mempunyai hak khusus dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri.

“Selama penerapan SSA selama dua tahun ini, kemacetan di Jalan Margonda bisa terurai apalagi saat jam pulang kerja,” beber Sutomo.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana enggan berkomentar jauh terkait pembongkaran alat pembatas jalur contraflow di Jalan Arif Rahman Hakim. Dirinya mengaku akan mengikuti langkah yang diambil oleh Satlantas Polresta Depok.

“Kalau jadwal contraflow masih tahapan uji coba. Tapi mungkin  dari Polres Depok ada pertimbangan teknis yang lain. Untuk sementara ikuti saja dulu kebijakan yang diambil oleh Polres Depok,” pungkas Dadang. (rd)

 

Tentang Program Contraflow di Jalan Arif Rahman Hakim :

– Dimulai Sabtu, 31 Agustus 2019

– Masih dalam tahap uji coba

– Alasannya : perjalanan kereta api saat ini tiga sampai lima menit, sehingga menimbulkan antrean di Jalan Dewi Sartika semakin padat

– Perlu diintervensi manajemen rekayasa di Jalan Arif Rahman Hakim, dari Ramanda sampai u turn BNI dua jalur. Dari u turn BNI ke barat menuju Jalan Nusantara Raya itu tiga jalur

– Penambahan satu jalur diambil dari sebelah utara. Sementara dari arah barat (PLN) menuju Margonda akan menjadi satu jalur.

– Kemudian di u turn BNI menjadi dua jalur sampai dengan Ramanda, yang di fly over itu sudah dua jalur. Dari Ramanda nanti akan digunakan dua jalur baik ke arah barat maupun ke arah timur dan pecah menjadi tiga jalur di u turn BNI

– Mengapa digunakan hanya satu jalur dari PLN : Karena berdasarkan survey teknis volume kendaraan dari arah timur itu lebih banyak sepanjang hari itu padat. Untuk Jalan Nusantara dan Jalan Dewi Sartika tetap seperti biasa satu arah. Jalan Melati masih boleh belok kiri karena nanti untuk mengantisipasi dibukanya tol seksi II, jadi dari yang Depok I bisa langsung ke tol nantinya

– Mulai Minggu, 8 September program contraflow dihentikan sementara

– SSA kembali berlaku

– Dilakukan upaya diskresi kepolisian

– Contraflow dianggap tidak efektif kurangi kemacetan

– Langkah Diskresi yang diambil, tertuang dalam Pasal 18 ayat 1 UU No.2/2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dimana pasal ini berbunyi, sesuai kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia mempunyai hak khusus dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri.

– SSA dinilai lebih efektif urai macet di Jalan Margonda

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani (IG : @apridasani)

Editor : Pebri Mulya