Menteri keuangan sri mulyani
Menteri Keuangan, Sri Mulyani.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

 

JAKARTA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani  mulai khawatir dengan terjadinya serangna terhadap kilang minyak terbesar di Arab Saudi pada akhir pekan lalu. Pasalnya akibat kejadian tersebut, kini harga minyak mentah dunia mulai meroket. Kekhawatiran tersebut, harga minyak dunia tersebut akan membebani APBN yang berujung pada harga BBM yang ikut naik.

Berdasarkan perkembangn pada hari Senin (16/9), harga minyak mentah berjangka Brent naik 8,8 dolar AS atau 15 persen menjadi 69,02 dolar AS per barel.

Meski masih di bawah 70 dolar AS, itu merupakan kenaikan harian terbesar se jak 1988. Sedangkan minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate WTI) naik menjadi 62,90 dolar AS per barel atau melonjak 14,7 persen, terbesar sejak Desember 2008.

Melonjaknya harga minyak mentah dunia merupakan dampak rusaknya 2 fasilitas minyak mentah milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais, karena serangan drone akhir pekan lalu. Kerusakan dua kilang itu membuat Aramco kehilangan produksi sebesar 5,7 juta barel per hari.

Akibatnya, pasokan minyak dunia berkurang sebesar 5 persen. Pihak Aramco belum memberi kepastian kapan kapasitas produksi akan kembali seperti semula.

Sri Mulyani terus memantau kenaikan harga minyak dunia ini. Pasalnya, kenaikan ini akan membuat ketidakpastian pada perekonomian global. Apalagi, Saudi merupakan negara eksportir minyak terbesar dunia dengan cadangan minyak yang melimpah.

Dampak serangan yang memotong produksi diprediksi memengaruhi pasokan dunia. Sri Mulyani yakin, dalam jangka pendek, tidak ada yang perlu dirisaukan. Namun, untuk jangka panjang, dampaknya harus diperhatikan.

“Yang harus kami perhatikan mungkin lebih kepada dampak jangka menengah-panjang yaitu di namika stabilitas keamanan dan politik di Timur Tengah,” kata Sri Mulyani, di Jakarta.

Sri Mulyani untuk sekarang ini masih mencermati perkembangan kedepannya,karena dikhawatirkan akan terbebani ke APBN. Namun, kalau dilihat dalam APBN 2019, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok sebesar 70 dolar AS per barel atau lebih tinggi dari harga minyak Brent saat ini.

“Kalau koreksi sifatnya jangka pendek, mungkin masih bisa diserap,” kata Sri Mulyani. (rmco/rd)

 

Editor : Pebri Mulya