TERAKHIR : Pemulangan kloter terakhir jamaah haji gelombang pertama, Sabtu (31/8) malam waktu Arab Saudi. Saat ini di Makkah tinggal jamaah haji gelombang kedua yang bertahap didorong menuju Madinah. FOTO : JAWA POS
TERAKHIR : Pemulangan kloter terakhir jamaah haji gelombang pertama, Sabtu (31/8) malam waktu Arab Saudi. Saat ini di Makkah tinggal jamaah haji gelombang kedua yang bertahap didorong menuju Madinah. FOTO : JAWA POS

 

MAKKAH – Sabtu (31/8) waktu Arab Saudi menjadi proses pemulangan kloter terakhir jamaah haji gelombang pertama. Dengan begitu, saat ini tinggal jamaah haji gelombang dua yang masih berada di Makkah. Kini secara bertahap mereka didorong menuju Madinah.

Total jamaah haji gelombang pertama terdiri dari 299 kloter. Pemulangan terakhir adalah kloter BTH 15 dari embarkasi Batam. Prosesi pemulangan kloter terakhir di Hotel Sabiq Tower 2 dipimpin langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Nizar Ali.

Nizar mengatakan, jamaah haji tahun ini merasakan sejumlah pembaharuan atau inovasi pelayanan. Diantaranya adalah layanan AC atau pendingin udara di tenda di Arafah.

Sehingga jamaah haji menjadi lebih nyaman untuk berdoa selama prosesi wukuf. “Meskipun AC-nya sempat ada pemadaman,” jelasnya.

Dia berharap jamaah haji secara ikhlas memaafkan petugas ketika ada pelayanan yang kurang memuaskan. Dia juga meminta supaya petugas didoakan. Sebab petugas haji di Makkah masih bertugas sampai pendorongan jamaah terakhis menuju Madinah pada 6 September 2019.

Sementara itu jumlah jamaah haji wafat tahun ini sudah melampaui catatan tahun lalu. Padahal masa operasional haji 2019 masih berjalan sampai 6 September 2019. Kasus serangan jantung akut menjadi penyebab tertinggi kematian jamaah haji.

Tahun lalu jumlah jamaah wafat sampai akhir masa operasional haji berjumlah 388 orang. Sementara itu memasuki hari ke-57 operasional, Sabtu (31/8) jumlah jamaah haji meninggal mencapai 392 orang. Kasus kematian paling banyak ada di kota Makkah dengan jumlah 314 orang.

Dilihat dari asal embarkasinya, kasus kematian terbanyak untuk jamaah Surabaya (SUB) dan Bekasi (JKS). Masing-masing 62 orang. Kemudian dari Embarkasi Solo (SOC) berjumlah 55 orang. Catatan kematian terkecil ada di Embarkasi Lombok (LOP) yakni tujuh orang.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Daker Makkah M. Imran menuturkan penyebab angka kematian tahun ini lebih tinggi dari sebelumnya karena kelelahan. “Pasca armuzna, jamaah haji terus melakukan tawaf ifadah,” katanya, Sabtu (31/8). Setelah itu melakukan ibadah sunnah seperti tawaf wada.

Imran menuturkan faktor kelelahan itu dapat memicu kondisi darurat. Misalnya memperparah penyakit yang diderita sejak dari tanah air. Atau bisa juga memicu penyakit baru. Dia mengatakan banyak kasus jamaah wafat karena serangan jantung akut.

“Faktor cuaca juga berpengaruh. Cuacanya ekstrem. Panas sekali,” jelasnya.

Imran menuturkan sampai saat ini masih ada 49 jamaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Kemudian ada 111 jamaah di RS Arab Saudi. Mereka akan terus dirawat dan distabilkan sehingga bisa menempuh perjalanan ke Madinah. (jwp/rd)

 

Editor : Pebri Mulya