DISKUSI : Suasana diskusi publik “Siapa Petahana di Pilkada 2020 dalam Perspektif, Politik, Pers, dan Masyarakat” di salah satu café di kawasan Grand Depok City, Rabu (18/9). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
DISKUSI : Suasana diskusi publik “Siapa Petahana di Pilkada 2020 dalam Perspektif, Politik, Pers, dan Masyarakat” di salah satu café di kawasan Grand Depok City, Rabu (18/9). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Kumpulan Alumni HMI menggelar diskusi politik bertajuk  ‘Siapa Penantang Kuat Petahana di Pilkada Depok 2020 Ditinjau Dari Perspektif Pers, Media, dan Masyarakat’, di sebuah kafe, kawasan Grand Depok City, Rabu (18/9) malam. Sesuai judulnya, diskusi sebagai langkah pemasanan jelang Pilkada Depok 2020.

Penggagas diskusi, Hendrik Raseukiy mengatakan, latar belakang pengambilan tema tersebut, karena ia melihat semua komponen itu harus ada, terlibat dalam berwacana untuk membedah perpolitikan ke depan, terutama hajatan besar di 2020.

“Jadi petahana kalau tidak dibikin siapa penantangnya, berarti tidak dianggap. Karena dianggap petahan punya peran dan punya kemampuan untuk bisa lagi (maju), maka perlu dibuat ada penantangnya,” ungkapnya kepada Radar Depok.

Dirinya menilai, justru penantang petahana terkuat yaitu petahana sendiri. Karena dirinya sendiri yang membuat terpilih lagi atau tidak. Tentu dengan karyanya.

“Dia akan bersaing dengan karyanya dan kesan-kesan yang diberikan kepada masyarakat. Jadi bukan orang lain,” bebernya.

Jadi, lanjut wartawan senior di Depok ini, misalkan ada petahana yang tidak terpilih lagi. Menurutnya, hal itu lantaran dirinya tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang sudah diberikan untuk memberikan karya dan kesan yang baik pada warganya.

Kata dia, dalam hal perdebatan pilkada, baik wartawan dan masyarakat harus dilibatkan. Objeknya itu sekarang masyarakat. Sementara, pers mewakili masyarakat.

“Yang ingin saya katakan dalam hal ini. Bahwa pers ini sekarang belum waktunya pencalonan, tapi sudah ramai memberitakan. Untuk apa, agar masyarakat lebih tahu dari awal,” tegasnya.

Ia menuturkan, kalau memang ada partai politik yang ingin menonjolkan sosok yang sudah mapan, maka pers yang menonjolkan sosok yang masih tersembunyi di masyarakat. Tapi punya potensi.

“Sehingga masyarakat dapat terjelaskan bahwa ada tokoh dari berbagai kalangan yang juga bisa menjadi pemimpin,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu narasumber, Devie Rahmawati mengaku, dirinya sebagai Peneliti Sosial Vokasi UI bersama dengan Depok24jam (akun Iinstagram) sedang melakukan sebuah penelitian panjang dan besar untuk menemukan sebuah teori tentang kebangkitan lokalitas melalui jaringan media sosial.

“Penelitian ini menyoroti teknologi saat ini yang telah memfasilitasi kemandirian warga dalam aspek sosial, budaya bahkan politik,” terangnya.

Dia menjelaskan, penelitian ini salah satunya menyoroti dinamika masyarakat dalam menilai kepemimpinan kotanya. Dalam polling sederhana terhadap 2800 warganet di kanal depok24jam, ditemukan bahwa masyarakat belum menemukan sosok lain sebagai salah satu calon pemimpin Depok.

Petahana dengan sederet prestasi, yaitu 10 program unggulannya, memang sudah menunjukkan kerja nyata, yang akan menjadi pekerjaan besar bagi siapapun penantangnya. Warganet Depok sudah matang dan rasional.

“Terbukti, melalui poling di Instagram ini, mereka tidak secara spesifik memilih calon dengan latar belakang kelompok/partai tertentu. Bagi mereka, yang terpenting ialah mampu mengimplementasikan gagasan dan janji politiknya,” tegasnya.

Ia menuturkan, harapan ke depan bagi siapapun yang terpilih, harus terus memelihara monumen kemajuan yang sudah dibangun oleh pemimpin sebelumnya. Agar posisi Kota Depok yang sudah baik, tinggal terus melaju, lepas landas, dengan monumen lama dan baru.

Pemimpin berikutnya diharapkan dapat fokus hanya ke beberapa program, sehingga dalam waktu yang singkat, seluruh program dapat diwujudkan, karena seluruh sumber daya energi, manusia dan waktu dikerahkan untuk mewujudkan hal tersebut.

“Menjadi seorang pemimpin, jangan terobsesi menjadi seorang superman yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan. Yang terpenting ialah, mampu menunjukkan kerja nyata, dan mewariskan prestasi yang mumpuni,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Junior Wiliandro/Adit

Editor : Pebri Mulya