MASIH TERJAGA : Rumah Pondok Cina di dalam kawasan Hotel Margo City masih aman dan dijaga kelestriannya. FOTO : ISTIMEWA
MASIH TERJAGA : Rumah Pondok Cina di dalam kawasan Hotel Margo City masih aman dan dijaga kelestriannya. FOTO : ISTIMEWA

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Aset sejarah milik Kota Depok terus menjadi perhatian. Benda Cagar Budaya (BCB) yang ada di Kota Depok, jangan sampai rusak.  Rumah Pondok Cina yang berada di kawasan pusat perbelanjaan Margo City, misalnya. Disekeliling Rumah Pondok Cina sedang dilakukan renovasi khawatir jadi terdampak akibat perbaikan yang dilakukan managemen Margo.

Media Relation Margo City, Sinta Nawangwulan memastikan, bangunan Rumah Pondok Cina aman, dan tidak terganggu dengan proses pembangunan management Margo City. “Saat ini kami tetap menjaga dan merawat Rumah Pondok Cina, kondisinya sekarang ini memang Margocity sedang dalam proses pembangunan,” kata Sinta Nawangwulan kepada Radar Depok, Selasa (18/9).

Pantauan dilokasi, pembangunan yang dilakukan Margocity tertutup, sehingga masyarakat tidak bisa memastikan keberadaan Rumah Pondok Cina. Penglola menutup lokasi pembangunan yang ditengahnya terdapat rumah Pondok Cina dengan seng, dan papan.

Pemerhati bangunan bersejarah di Kota Depok, Ratu Farah Diba khawatir bangunan bersejarah : Rumah Pondok Cina, karena dindingnya berpotensi mengalami keretakan. Namun dia juga menyayangkan pihak Margocity yang seolah menutup akses ke Rumah Pondok Cina.

Menurutnya, pihak Margocity tidak kooperatif dengan upaya pelestarian benda bersejarah di Kota Depok. Padahal menurutnya itu bisa menjadi daya tarik bagi para pengunjung. “Mereka seolah menutup proses pembangunan, sehingga kami tidak bisa mengawasi langsung keberadaan rumah Pondok Cina,” kata Ratu Farah Diba.

Seperti diketahui, Rumah Pondok cina dibangun pada tahun 1841 didirikan dan dimiliki oleh seorang arsitek Belanda. Tapi pada pertengahan abad ke-19 dibeli oleh saudagar Tionghoa, Lau Tek Lok dan kemudian diwariskan kepada putranya bernama Kapitan Der Chineezen Lauw Tjeng Shiang.

Yang tinggal di daerah tersebut hanya lima keluarga yang semuanya orang keturunan Tionghoa. Mereka ini selain berdagang, ada juga yang bekerja sebagai petani di sawah sendiri serta bekerja di ladang kebun karet milik tuan tanah orang-orang Belanda.

Dalam perjalanan waktu, beberapa keluarga ada yang pindah ke tempat lain yang tidak diketahui apa alasannya, sampai akhirnya hanya satu keluarga yang tersisa. Keluarga ini mendiami rumah tua tersebut yang kini telah menjadi bagian dari Mall Margo City. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya