Kapolresta Depok, AKBP Azis Andriansyah bersama Wakapolresta Depok, AKBP Arya Perdana berdoa bersama usai salat gaib mendoakan mendiang BJ Habibie, di Masjid Al Ikhlas, Mapolresta Depok, Kamis (12/9). FOTO : ISTIMEWA
Kapolresta Depok, AKBP Azis Andriansyah bersama Wakapolresta Depok, AKBP Arya Perdana berdoa bersama usai salat gaib mendoakan mendiang BJ Habibie, di Masjid Al Ikhlas, Mapolresta Depok, Kamis (12/9). FOTO : ISTIMEWA

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Berpulangnya Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie meninggalkan luka mendalam, tak terkecuali bagi jajaran Polresta Depok. Sebab itu, puluhan polisi melakukan salat gaib, untuk mendoakan mendiang BJ Habibie, di Masjid Al Ikhlas, Mapolresta Depok, Kamis (12/9).

Salat gaib dipimpin langsung Kapolresta Depok, AKBP Azis Andriansyah, diikuti seluruh jajaran Polresta Depok. Tidak lupa setelah salat, seluruhnya memanjatkan doa untuk sang Bapak Teknologi tersebut.

Usai melaksanakan salat, Azis mengenang jasa dan sosok Eyang Habibie, sapaannya. Yang tidak terlupakan adalah saat dilantik, selepas pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1998.

“Sosok beliau sebagai Bapak Teknologi Indonesia banyak berjasa, khususnya bagi pembangunan di Indonesia. Apalagi kita yaitu saya dan Wakapolres adalah lulusan Akpol 1998 bagian akademi yang satu-satunya dilantik langsung sama BJ Habibie,” ujar Azis.

Selain dikenang sebagai Presiden RI, BJ Habibie terkenal dengan hasil karyanya membuat pesawat terbang untuk Indonesia saat diusia negara ini ke-50 tahun. Sosok pria yang memiliki nama panggilan kecil Rudy ini, kemampuannya sudah diakui hingga di mata dunia khususnya di bidang penerbangan.

“Segala jasa Habibie tidak akan bisa dijalankan. Untuk kami sebagai generasi muda akan meneruskan perjuangan beliau untuk negeri ini kedepannya,” papar mantan sekretaris pribadi Kapolri Tito Karnavian tersebut.

Sebagaimana diketahui, BJ Habibie meninggal di RSPAD Gatot Subroto usai dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, Rabu (11/9). Sekitar pukul 18:05 WIB, Habibie menghembuskan nafas terakhir, karena sakit yang dideritanya. (rd)

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani (IG : @apridasani)

Editor : Pebri Mulya