Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita.
yamaha-nmax
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Dinas Kesehatan Kota Depok menjatuhkan sanksi hukuman disiplin, kepada Puskemas Villa Pertiwi karena terbukti lalai memberikan obat kadaluarsa ke pasien. Kelalaian yang dilakukan pihak puskesmas, karena tidak mengikuti standar operasional prosedur (SOP) sebelum menyuntikan obat ke pasien bernama Nur Istiqomah (50) yang menderita paru-paru basah (TB).

“Kepala Puskesmas Villa Pertiwi sudah dipanggil tadi pagi (kemarin) akibat kelalaian disana. Langsung kami berikan hukuman disiplin, dan berjanji akan melakukan perbaikan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita kepada Radar Depok, di Balaikota, Selasa (10/9).

Novarita menuturkan, gejala mual dan pusing yang dialami Isti adalah efek samping dari penggunaan obat tersebut. Bukan dikarenakan obat itu telah melewati batas konsumsi, yang jatuh pada Juli 2019.

“Semua pasien TB mengkonsumsi obat itu, dampak yang ditimbulkan tergantung daya tahan tubuh pasiennya. Memang pusing-pusing itu efek samping dari obat tersebut, jadi bukan karena kadaluarsa,” tuturnya.

Baca Juga  Ingin Berangkatkan Haji Orang Tua

Puskesmas Villa Pertiwi merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Depok yang sudah terakreditasi. Dinas Kesehatan akan mendata ulang obat-obat, baik yang berada di puskesmas bersangkutan dan instalasi farmasi di Balaikota Depok.

“Sistem pengadaan obat akan ditotal ulang, sehingga obat akan kembali didistribusikan dari farmasi. Kalau kemarin karena pasien spesifik TB ditaruh obatnya dibagian TB, sekarang dikembalikan lagi. Setiap mau melakukan tindakan harus di cek terlebih dahulu,” tegas Novarita.

Diketahui sebelumnya, warga perumahan Villa Pertiwi, Kecamatan Cilodong, Depok mengalami gejala mual dan pusing. Kuat dugaan perempuan berusia 50 tahun itu mengkonsumsi obat kadaluarsa dari Puskemas Villa Pertiwi.

Perempuan yang sering disapa Isti itu didiagnosa menderita penyakit paru-paru basah. Dan dianjurkan mengkonsumsi obat secara rutin dengan cara disuntikkan setiap harinya selama dua bulan. Isti mengaku, selama beberapa minggu pengobatan tidak pernah merasakan hal yang aneh. Namun, baru beberapa hari terakhir ini timbul gejala yang tak biasa : pusing berlebih dan berkeringat.

Baca Juga  Atasi Sampah Rumah Tangga, Sukamaju Baru Depok Ajak Bank Sampah Buat Produk

Kemudian, Isti mencoba mendatangi ke klinik berbeda yang tak jauh dari rumahnya. Dari klinik itulah baru diketahui ternyata Isti diduga mengkonsumsi obat kadaluarsa. Pada botol obat tersebut tertera, tanggal akhir layak konsumsi yakni Juli 2019.

“Saya disuruh lihat botolnya rupanya tanggalnya sudah lewat. Dia (dokter) angkat tangan enggak mau nyuntik ke saya, sementara saya harus rutin setiap hari gak boleh putus nyuntik obat itu,” katanya kepada Radar Depok, Senin (9/9).

Isti mengatakan, telah mendatangi langsung puskesmas yang memberinya obat diduga kadaluarsa tersebut, untuk minta pertanggungjawaban. Pihak puskesmas sudah ada itikad baik. “Tadi saya diantar ke rumah sakit Sentra Medika. Di sana saya ketemu dokter Lusi katanya ini enggak apa-apa. Kalau obatnya enggak diterima tubuh, ada enzim yang dikeluarkan melalui keringat dan kotoran,” bebernya.

Baca Juga  Tiga Pilar di DepokBerjibaku Bantu Korban Banjir

Isti tidak tahu persis sejak kapan mengkonsumsi obat kadaluarsa itu. Yang dia tahu, gejala atau efek yang ditimbulkan paling terasa sejak kemarin (Minggu, 8 September). “Udah sebulan lebih saya selalu ambil obat di puskesmas dengan merek dan dosis yang sama. Tapi, saya gak tahu kalau saya suntik obat kadaluarsa sejak kapan,” tegasnya.(rd)

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani (IG : @apridasani)

Editor : Pebri Mulya