LESTARIKAN BUDAYA : Camat Cimanggis, Eman Hidayat (kanan) menghadiri kegiatan Pesta Bumi Curug Gawu bersama para tokoh masyarakat Kelurahan Harjamukti di Kampung Kalimanggis RT04/09 Kelurahan Harjamukti, Cimanggis. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
LESTARIKAN BUDAYA : Camat Cimanggis, Eman Hidayat (kanan) menghadiri kegiatan Pesta Bumi Curug Gawu bersama para tokoh masyarakat Kelurahan Harjamukti di Kampung Kalimanggis RT04/09 Kelurahan Harjamukti, Cimanggis. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, HARJAMUKTI –  Tradisi Sedekah Bumi di Kelurahan Harjamukti, Cimanggis menjadi salah satu kekayaan budaya di Kota Depok. Kearifan lokal ini pun dapat mengangkat perekonomian bagi warga setempat saat pelaksanaan.

Hal tersebut disampaikan Camat Cimanggis, Eman Hidayat saat menghadiri Sedekah Bumi yang dilaksanakan di Curug Gawu, Kampung Kalimanggis, RT04/09 Kelurahan Harjamukti, Cimanggis beberapa waktu lalu.

Camat Cimanggis, Eman Hidayat menuturkan, kepedulian masyarakat di Harjamukti terhadap peninggalan sejarah masih sangat tinggi. Dukungan mereka terhadap penggiat ekonomi pun besar. Sebab, masyarakat yang datang membeli berbagai jajanan pasar.

“Ini menjadi kekayaan budaya Kota Depok nantinya. Penggiat UMKM akan bermunculan karena banyak yang berdagang di Pesta Bumi Curug Gawu,” ujarnya.

Sementara, salah satu tokoh masyarakat setempat, Namat (57) menjelaskan, Sedekah Bumi  Curug Gawu merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan sejak jaman nenek moyangnya. Tradisi itu dilaksanakan untuk memperingati masuknya agama Islam ke wilayah tersebut lewat para nabi yang sempat singgah di Kramat Curug Gawu.

“Kramat Curug Gawu ini dulunya tempat petilasan para wali yang hendak menyiarkan agama Islam. Karena mereka tidak menemukan air di lokasi Curug Gawu ini untuk wudu, akhirnya para wali menancapkan tongkat atau kakinya ke tanah di lokasi ini lalu keluar lah mata air berupa tujuh lubang sumur yang  sekarang disebut Cur Gawu,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini Curug Gawu hanya memiliki dua lubang sumur yang diyakini peninggalan para wali tersebut. Meski demikian pihaknya terus merawat Curug Gawu tersebut sebagai kelestarian budaya yang ada di wilayah mereka.

Gak tau karena faktor apa, sekarang sumurnya tinggal dua,” bebernya.

Perayaan Pesta Bumi Curug Gawu, lanjutnya, dilakukan setiap memperingati malam Suro dan diadakan di setiap malam pertama tawas bulan atau biasa disebut pala taun. Sedangkan, untuk melaksanakan perayaan tersebut pihaknya mengumpulkan dana secara swadaya warga.

“Para warga kami minta sumbangan seikhlasnya untuk mendukug terlaksananya kegiatan ini,” katannya.

Dalam kegiatan kali ini, pihaknya meyembelih empat ekor kambing dan membuat berbagai kegiatan hiburan untuk warga, mulai dari syukuran, tari topeng, hingga dangdut.

“Kegiatan kali ini kami adakan dua hari dua malam untuk menghibur warga dan meningkatakan tali silaturahmi antar warga,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalsi : Indra Abertnego Siregar (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya