FOTO: Muqorobin, Guru SMA Avicenna

 

Oleh: Muqorobin

*Kepala SMP Avicenna Cinere

*Founder Pusat Terapi Tootie Kidz Center

 

DIKISAHKAN, suatu hari khalifah Umar bin Khatab naik ke atas mimbar lalu berpidato di hadapan khalayak ramai. Ia berkata: Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mas kawin kepada istri. Karena mahar Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar bernilai takwa di sisi Allah SWT dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham.”

Selanjutnya, dalam riwayat lain khalifah Umar mengancam akan memangkas setiap kelebihan dari mahar itu dan memasukkannya ke dalam kas baitul mal. Selesai pidato khalifah Umar turun dari mimbar, tiba-tiba seorang perempuan Quraisy berdiri lalu melontarkan protes “Hai Amirul Mu’minin, kau melarang orang-orang memberikan mahar kepada istri-istri mereka lebih dari 400 dirham?“.

Khalifah Umar menjawab “Ya”. Wanita itu kemudian bertanya kembali “Apakah kau tak pernah dengar Allah SWT menurunkan ayat al-qur’an yang berbunyi “… kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar)…” (QS. an-Nisa’: 20). Lalu, protes tersebut disambut hangat oleh khalifah Umar, sambil membaca istighfar dan berujar, “Tiap orang lain lebih paham ketimbang Umar.”

Selanjutnya khalifah Umar kembali ke atas mimbar dan berpidato lagi, “Wahai khalayak, tadi aku larang kalian memberikan mahar kepada istri melebihi 400 dirham. Sekarang silakan siapa pun memberikan harta (sebagai mahar) menurut kehendaknya.” Ucap khalifah Umar.

Ada hal menarik dari kisah tersebut, dalam situasi perdebatan tentang jumlah mas kawin, sikap khalifah Umar menggambarkan kepribadian dan keteladanan seorang pemimpin yang rendah hati dan terbuka terhadap kritik dari rakyatnya. Selanjutnya, teladan kepemimpinan tersebut, juga tidak hanya ditunjukkan dari cara yang santun  dalam menyikapi kritik, tetapi tanpa rasa sungkan Umar juga mengakui kekurangannya dan tanpa ragu untuk merevisi isi pidatonya.

Sikap saling memberi dan menerima kritik dalam perdebatan tersebut, mencerminkann teladan dalam bentuk membangun hubungan saling menghormati dan mencintai antara seorang pemimpin dengan rakyatnya, bukan sebaliknya dalam rangka untuk saling menjatuhkan karena kebencian dan ketidak sukaan.

Hal itu tercermin dalam hadist Rasulullah SAW “sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu; kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR. Muslim).

Sejatinya seorang pemimpin adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menjalankan tugas amanah kepemimpinannya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika setiap diri kita dan para pemimpin mampu meneladani perilaku kepemimpinan khalifah Umar. Dengan terbuka ia mau menerima kritik, nasehat dan masukan dari orang lain sebagai bagian untuk memperbaiki diri dan meraih keberuntungan dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Allah berfirman “di antara ciri orang yang mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akhirat adalah orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. al-‘Ashr: 1-3).

Dengan bersikap terbuka, mau menerima nasehat dan kritik, sesungguhnya hal itu tidak akan menjatuhkan reputasi dan kewibawaan seorang pemimpin. Akan tetapi, justru dapat mengangkat derajat kehormatan dalam spirit kepemimpinan, karena respeknya terhadap hak-hak untuk keleluasaan berbicara dan menyampaikan pendapat secara terbuka. Wallahu alam Bisshawab. (*)