ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

JAKARTA – Berdasarkan data yang dimiliki BPJS, di tahun 2017, jumlah penyakit yang berkaitan dengan rokok dan mendapatkan layanan rawat jalan dan rawat inap sebanyak 5.159.627 kasus. Atas dasar data tersebut, Kementerian Kesehatan berpendapat kalau Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terbebani oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai pengobatan penyakit yang dipicu oleh paparan rokok

“Penyakit-penyakit yang muncul akibat paparan rokok tersebut di antaranya cirrhosis hepatis, gagal ginjal, haemophilia, jantung, kanker, leukaemia, stroke dan thalasemia,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Dr. Anung Sugihantono dalam penjelasannya tentang data BPJS tersebut di Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Berdasarkan data BPJS yang ditunjukkan itu, jumlah biaya yang dikeluarkan setiap tahun dari 2016 hingga 2018, angkanya terus meningkat dengan beban yang mencapai lebih dari Rp5,3 triliun.

Dalam pemaparan tersebut, Anung juga menjelaskan, konsumsi rokok keluarga berpengaruh pada hubungan negatif dengan kepatuhan seseorang untuk membayar iuran JKN.

Selain itu, rokok juga mengancam upaya Indonesia untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) atau jaminan kesehatan universal pada 2019, karena dananya tersedot untuk penanganan penyakit.

Sementara itu, beban yang harus ditanggung untuk membiayai pengobatan akibat rokok juga secara otomatis membatasi pemasukan BPJS Kesehatan, selain juga memperburuk defisit JKN. (jpnn/rd)

 

Editor : Pebri Mulya