PRESENTASI : Founder Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati saat mempresentasikan hasil survei yang dilakukan bersama Depok 24 Jam di bilangan Jalan Margonda, Jumat (13/9). FOTO : RICKY/RADARDEPOK
PRESENTASI : Founder Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati saat mempresentasikan hasil survei yang dilakukan bersama Depok 24 Jam di bilangan Jalan Margonda, Jumat (13/9). FOTO : RICKY/RADARDEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pilkada Depok 2020 diperkirakan akan mengalami banyak kejutan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia bersama akun Depok 24 Jam, diketahui respons masyarakat terhadap elektabilitas partai sangatlah kecil.

Founder Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati mengatakan, melalui survei kualitatif dengan Google form terjaring 2.800 responden (warganet) dari Depok 24 Jam, yaitu masyarakat Kota Depok yang menyatakan bahwa sosok calon walikota mendatang yang diinginkan bukanlah melihat dari partai, asal daerah, atau dengan kata lain “siapa saja”.

“Jadi, mereka tidak memperdulikan asal usul si Pemimpin. Namun, intinya dia mampu menyelesaikan masalah Kota Depok secara nyata seperti Kriminal, Pendidikan, Sampah. Tidak perduli dia dari kalangan manapun (partai dan non Partai), atau bukan orang Depok asli yang terpenting mampu menjawab pertanyaan tadi,” ucap Devie, Jumat (13/9).

Kemudian, kepuasan akan birokrasi (Pemerintah) juga terukur hanya dua persen. Dengan kata lain, banyak ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah saat ini. Oleh sebab itu, diartikan Devie, Kota Depok kini butuh sosok baru yang penuh dengan gagasan dan mendukung kaum milenial.

“Pemerintah Kota Depok, hingga kini mewakili kelompok tertentu selama kurang lebih 15 tahun. Sehingga, butuh oksigen baru. Masyarakat membutuhkan sosok muda dengan patokan umur 30 – 40 Tahun, karena yang ternyata dilirik adalah kecepatannya dalam mengambil keputusan maupun program,” bebernya.

Survei tersebut, diakui Devie, sama seperti pilkada serentak tahun lalu, yang memilih Calon Gubernur Jawa Barat. Hasilnya, dinilai reliable dalam merepresentasikan kehendak warga Kota Depok.

“Berdasarkan, penelitian kita survei tahun lalu juga sama pemilihan masyarakat terhadap Partai sangat sedikit hanya mencapai dua persen saja,” tegasnya.

Pihaknya merangkum, faktor partai dan personal sudah tidak menjadi patokan netijen memilih patut diduga ada kejenuhan warga dalam menaruh harapan perubahan pada partai politik di Kota Depok.

Kemudian, warganet cerdas akan lebih memilih kinerja daripada partai atau personal namun mereka masih punya selera konvensional untuk tetap mempertahankan preferensi terhadap tokoh muslim dengan gender laki-laki.

“Harapan tinggi warganet terhadap berbagai masalah klasik perkotaan di Depok yang jadi pekerjaan rumah bertahun-tahun,  tata kelola kemacetan, manajemen kota, dan lainnya,” paparnya.

Selanjutnya, dirinya berharap hasil penelitian tersebut mampu menjadi acuan oleh partai politik di Kota Depok, guna menjawab keresahan dan keinginan masyarakat.

“Survei ini juga, telah digunakan di luar negeri dan itu telah dibuktikan, hasilnya hampir sama seperti di real count,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Ricky Juliansyah

Editor : Pebri Mulya