MEMBUAT PASPOR : Warga saat melakukan tahap pendaftaran untuk mengurus pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Depok, Grand Depok City. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MEMBUAT PASPOR : Warga saat melakukan tahap pendaftaran untuk mengurus pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Depok, Grand Depok City. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Ratusan pencari suaka atau imigran gelap saat ini ditangani kantor Imigrasi Kota Depok. Berdasarkan data yang diperoleh, ada 182 imigran gelap yang tinggal di Kota Depok, berasal dari berbagai negara.

Humas Kantor Imigrasi Kota Depok, Rima Wulandari menyebutkan, para imigran gelap tersebut paling banyak berasal dari Afghanistan, yaitu 86 orang.

Selain itu dari Yaman 60 orang, Iran 18 orang, Irak sembilan orang, Ethiopia empat orang, Ghana dua orang, serta dari Mesir, Kongo, dan Pakistan masing-masing satu orang.

“Mereka tersebar di tujuh kecamatan Kota Depok. Kami masih terus melakukan pemantauan terhadap para imigran gelap tersebut,” ungkap Rima kepada Radar Depok, Selasa (22/10).

Rima menyebutkan, imigran gelap terbanyak tinggal di Kecamatan Beji, yaitu 47 orang. Kemudian Pancoranmas dan Sawangan masing-masing 42 orang.

“Sisanya di Kecamatan Cilodong 25 orang, Kecamatan Bojongsari 18 orang, Sukmajaya tujuh orang, dan satu orang di Cimanggis,” tukasnya.

Rima melanjutkan, mereka merupakan imigran gelap yang hanya mengantongi izin dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Mereka harus lapor ke kantor imigrasi depok karena tinggal di wilayah depok.

“Mereka harus lapor ke Kantor Imigrasi Kota Depok,” tegas Rima.

Pihaknya selalu melakukan pendataan terhadap keberadaan orang asing di wilayah Kota Depok. “Kalau ada perubahan kami melakukan update data,” tambahnya.

Pengungsi yang berada di Kota Depok, sifatnya pengungsi mandiri. Artinya, segala kebutuhan diupayakan sendiri oleh para pencari suaka termasuk menyewa tempat tinggal. Mereka masih dalam pengawasan International Organization for Migration (IOM).

Pihaknya, mengawasi pencari suaka itu sebagai orang asing, walaupun Kantor Imigrasi tetap membedakan model pendataan dengan warga negara asing yang memiliki izin tinggal.

“Kami sebut mereka (pemilik izin tinggal, red) sebagai pengungsi,” pungkasnya. (rd)

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya