ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

CIBINONG – Total ada 2.504 kasus istri minta cerai hingga Agustus 2019. Data tersebut berasal dari Pengadilan Agama (PA) Cibinong Kelas IA Kabupaten Bogor. Angka tersebut didasarkan pada faktor ekonomi, jadi banyak istri yang tidak sanggup hidup dengan suami kere.

Sebenarnya berdasarkan dari PA Cibinong kelas IA Kabupaten Bogor, jumlah data peceraian ada 3.880 kasus, tetapi dari angka total tersebut, latar belakang karena ekonomi menjadi alasan yang paling kuat.

Rinciannya, ada 2.504 kasus cerai lantaran rumah tangganya dibelenggu masalah ekonomi. Lalu 1.303 kasus dengan alasan perselisihan dan pertengkaran yang terjadi terus-menerus. Sebanyak 46 kasus perceraian disebabkan salah satu pihak meninggalkan dan 20 kasus diputuskan cerai karena faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Kemudian lima kasus karena pasangannya murtad atau berpindah keyakinan, satu kasus karena poligami dan satu kasus lagi karena suami sering mabuk.

Kepaniteraan Muda PA Kelas 1A Cibinong Teti Sunengsih mengatakan, gugatan perceraian terbagi menjadi dua kategori. Yaitu melalui talak (penggugat dari laki-laki) dan gugatan cerai (penggugat dari perempuan).

“Di Kabupaten Bogor, cerai gugat itu yang paling banyak, tercatat sejak 2017 sampai hari ini,” katanya kepada Metropolitan di PA Cibinong Kelas IA.

Dalam delapan bulan terakhir, cerai gugat atau penggugat cerai dari pihak wanita tercatat ada 3.003 perceraian. Sedangkan cerai talak atau penggugat cerai dari pihak laki-laki berada di angka 877 perceraian. Menurut para penggugat, tambah Teti, faktor penyebab perceraian di tahun ini dikarenakan ekonomi.

Teti menilai angka pernikahan muda di Kabupaten Bogor yang masih tinggi menjadi penyebabnya. “Untuk mengatasi masalah ini memang butuh kerja sama semua pihak. Kami di sini hanya memberikan mediasi saja jika gugatan sudah masuk,” ujarnya.

Jika dibandingkan data 2017 dan 2018, maka angka perceraian di Kabupaten Bogor memiliki tren peningkatan. Di 2017 ada 5.228 perkara cerai dan di 2018 ada 5.160 perkara cerai. Ia menilai tahapan persidangan yang harus dilalui para penggugat itu terbilang sulit. Sebab dari pertama masuknya gugatan, hakim akan terus memberikan mediasi kepada kedua belah pihak agar tidak bercerai, dengan dibarengi proses yang panjang. “Memang perceraian itu sulit. Itu agar tidak terjadinya perceraian. Tapi kalau sudah tidak bisa rujuk, mau gimana lagi,” tandasnya. (jpnn/rd)

 

Editor : Pebri Mulya