MEMPERCANTIK DIRI : Salah satu biduan Kota Depok, W (25) berdandan sebelum berangkat untuk menyanyi saat ditemui dikediamannya beberapa waktu lalu. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MEMPERCANTIK DIRI : Salah satu biduan Kota Depok, W (25) berdandan sebelum berangkat untuk menyanyi saat ditemui dikediamannya beberapa waktu lalu. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

MENJADI biduan dangdut bagi sejumlah orang merupakan sebuah hobi, ada juga yang menyebutnya sebagai profesi. Namun, selain mahir bernyanyi, stigma miring pun terkadang muncul dan menghinggapi biduan dangdut. Guna mengetahui fenomena itu, Radar Depok mencoba menelusuri dan mengungkap kehidupan biduan dangdut yang ada di Kota Depok.

Suara bising dari hilir-mudiknya kendaraan mewarnai Jalan Raya Citayam. Sebelum memasuki sebuah gang di kawasan tersebut, awak media Radar Depok harus melewati perlintasan rel kereta api.

Suasana di dalam gang menunjukkan problematika kehidupan ekonomi masyarakatnya. Tibalah kami pada sebuah rumah kontrakan, yang dijadikan tempat tinggal oleh seorang biduan dangdut bernama Wanda Tatum. Perempuan yang memiliki dua anak ini langsung menyapa dengan ramah.

Setelah mengenalkan diri, Wanda pun kembali bersolek mempercantik diri sebagai tanda ia bersiap mengais rezeki sebagai biduan dangdut maupun ladies companion (LC).

Ia mengaku, sudah menjalankan profesinya itu selama dua tahun. Perempuan berusia 25 tahun ini memilih menjadi biduan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekaligus membantu suaminya mencari nafkah. Karena menurutnya, pekerjaan di zaman sekarang harus memiliki ijazah minimal SMA atau perguruan tinggi.

“Sekali pentas di malam hari dibayar Rp200 ribu. Tapi kalau jobnya siang sampai malam bayarannya bisa Rp300 ribu. Kadang ada lebihnya dari saweran,” ungkap Wanda kepada Radar Depok.

Tetapi lanjut Wanda, uang lebih dari saweran akan dibagi rata kepada semua kru dangdut. Walaupun hasilnya tidak selalu sama di setiap pertunjukkan. “Ya, bisa Rp300 ribu sampai Rp500 ribu, tergantung ramai atau tidaknya saweran,” tutur Wanda.

Wanda juga tak menampik adanya cemoohan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Ia berkeyakinan, selalu berfikir positif dan selama bernyanyi tidak merugikan orang lain. Karena dia hanya menjual suara, bukan menjual tubuh.

Meski begitu, sebagai seorang ibu ia tidak melupakan tugasnya mengurus kedua anaknya. Pekerjaan rumah tangga tetap dilakoni, hingga suaminya pun tidak menentang profesinya. Wanda bersyukur, suaminya masih menilai positif pekerjaannya dan tidak merusak hubungan rumah tangga.

“Orang berkata saya jelek bodo amat, karena saya kerja suara untuk kebutuhan keluarga,” ucap Wanda.

Terkait LC, Wanda hanya menjalankan pekerjaan tersebut sesekali saja dan pembayarannya tidak seperti mengisi acara dangdut. Menjadi LC dihitung perjam menemani tamu bernyanyi dirumah karaoke. Satu jam, LC hanya dibayar Rp100 ribu dan itupun harus bergantian dengan LC lainnya.

Wanda mengaku, bila tamu sedang sepi, dia hanya mendapatkan waktu dua jam, dan jika normal Wanda akan mendapatkan waktu hingga empat jam. Hal yang membuatnya kurang nyaman menjadi LC, terkadang tamu kerap mencari kesempatan memegang tubuhnya.

“Enakan nyanyi di panggung dangdut, walau durasi kerjanya lebih lama,” terang Wanda.

Tak puas mencari informasi dari satu biduan, Radar Depok mencoba mencari biduan lainnya. Sebut saja Nabila (24), perempuan yang tinggal di wilayah Kecamatan Bojongsari. Ia kami temui di sebuah rumah berkelir biru, terdapat tongkrongan Honda Jazz di garasi.

Ditemui di tempatnya, Nabila mengaku, menjadi biduan dangdut berawal dari ajakan temannya yang telah sukses menjadi biduan. Melihat kesuksesan temannya, Nabila ingin mengikuti jejak temannya, dari satu panggung hiburan ke panggung lainnya ia jalankan, dan menghapal sejumlah lagu dangdut agar bisa menguasai panggung.

“Harus hapal lagu dangdut populer, biar penonton puas,” ujar Nabila.

Seiring berjalannya waktu, Nabila mulai tenggelam dalam dunia biduan. Pundi uang mulai memenuhi tabungan dari bayaran bernyanyi dan uang saweran. Untuk mendapatkan uang banyak, Nabila mulai mengubah tampilan, dari pakaian hingga merias wajah.

Tidak dapat dipungkiri, perubahan tersebut kerap mendongrak Nabila mendapatkan panggilan bernyanyi. Bahkan, ia pernah selama satu minggu mendapatkan panggung bernyanyi. Tak sedikit pria ngajak berkenalan, dan sejumlah pria hidung belang kerap ingin mengantar Nabila pulang. Karena kebutuhan hidup yang meningkat dan ingin memiliki barang mewah, ia mulai berani melayani sejumlah pria berdompet tebal. “Jujur, saya seleksi pria yang dekat dengan saya harus royal,” ucap Nabila.

Hidup berkecukupan, mulai dari memiliki motor hingga mobil membuat Nabila menyelami lebih dalam profesi biduan. Dia tidak menampik jika disebut sebagai perempuan simpanan, karena hal itulah yang ia alami saat ini. Kerap menemani pria berduit, berkaraoke secara pribadi maupun menemani ke suatu tempat wisata.

Nabila mengaku, dari hasil menemani pria tersebut ia bisa mendapatkan uang hingga Rp5 juta. Menurutnya, ia pernah ditawari menjadi istri simpanan, tetapi tawaran tersebut dia tolak. Jika  jadi istri simpanan ia merasa tidak akan bebas bergaul sesama teman maupun pria lainnya.

Namun, dari lubuk hati terdalamnya, ia ingin meninggalkan dunia biduan dan menjalankan pekerjaan lain. Ia berharap suatu saat nanti bisa menikah dengan pria yang dapat menerima perjalanan hidupnya sebagai biduan dangdut. “Pasti saya akan berhenti menjadi biduan dan cukup menjadi ibu rumah tangga,” tutup Nabila. (rd)

 

Jurnalis : Dicky Agung Prihanto (IG : @iky_slank)

Editor : Pebri Mulya