PENTAS: Kelompok Teater Taman Sandiwara, saat melakukan pementasan di salah satu gedung kesenian di Jakarta. FOTO : DOK.PRI FOR RADAR DEPOK
PENTAS : Kelompok Teater Taman Sandiwara, saat melakukan pementasan di salah satu gedung kesenian di Jakarta. FOTO : DOK.PRI FOR RADAR DEPOK

 

Banyak cara untuk terus belajar kesenian di Kota Depok. Meski Depok tak memiliki gedung pertunjukan, salah satu kelompok teater akhirnya memanfaatkan lahan kosong. Mereka adalah Teater Taman Sandiwara.

Laporan: Rubiakto

RADARDEPOK.COM – Kecintaannya terhadap teater membuat Luthfi Setyo Whidy (27) membentuk grup teater di Kota Depok. Taman Sandiwara label teater tersebut, dan ia dirikan sejak 2015.

Luthfi menilai, saat ini grup teater cukup banyak. Tetapi, terkesan membebankan anggotanya bertanggung jawab terhadap grup. Hingga latihan rutin pun cenderung mengganggu jam kerja dan kuliah.

Dia juga mengatakan, tak perlu mengurus kaderisasi, mengurus perizinan grup, dan mengurus pandangan orang lain terhadap karya pertunjukannya. “Awalnya masih ingin main teater, tapi tidak mau ribet dan bisa sambil kerja,” kata Luthfi.

Ia bercerita bagaimana mulanya mendirikan teater, mengajak empat teman kampusnya latihan, di taman Lembah Gurame. “Awalnya kami hanya berlima, dan memanfaatkan ruang publik di Kota Depok,” kata Luthfi.

Sementara itu, dia mengaku masih kesulitan mencari tempat latihan, sehingga kerap berpindah-pindah tempat latihan.

“Tempat kami latihan tidak menetap, kami selalu memanfaatkan ruang terbuka di Kota Depok. Di taman, kalau sedang ramai, kami juga kerap latihan di halaman sekolah,” kata Luthfi.

Belum lagi ia sulit mencari tempat pertunjukan di Kota Depok. Padahal banyak seniman kelas dunia, namun jarang sekali melakukan pertunjukan di Kota Depok. Lutfhi mengatakan teater adalah cara mengkritisi sesuatu lewat pemeranan, sastra, rupa, dan musik. Sehingga dirinya terus melakukan latihan agar tetap kritis menghadapi persoalan masyarakat, maupun persoalan bangsa. (*)

 

Editor : Pebri Mulya