Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana.
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana.

 

JAKARTA – Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana menuturkan, kalau honorer K2 kompetensinya kurang berkualitas. Hal itu menjadi salah satu yang menyebabkan Honorer K2 belum diangkat menjadi ASN/PNS.

Bima menjelaskan, pada saat tes PPPK tahap I, dari kuota yang disiapkan 75 ribu hanya terisi 50 ribuan. Walaupun pelamarnya banyak, tapi yang lulus 75 persen. Padahal lagi-lagi tingkat kesulitan soalnya sangat rendah.

“Sebetulnya honorer K2 ini kompetensinya parah. Berkali-kali diberi kesempatan tetap enggak bisa juga,” ucap Bima.

Tidak hanya itu saja, Bima juga menduga kalau banyaknya Honorer K2 yang masuk dengan KKN. Mereka dimasukkan dalam birokrasi karena untuk kepentingan politik.

“Kompetensinya sudah parah. Eh masuknya juga penuh dengan KKN. Lebih karena dorongan politik saja jadi dipaksa masuk ke birokrasi,” ujarnya.

Hal ini berbeda dengan bidan desa PTT. Sekitar 42 ribuan bidan desa PTT secara bertahap akhirnya bisa diselesaikan. Yang berusia 35 tahun ke bawah diangkat CPNS di 2018. Sedangkan usia 35 tahun ke atas diangkat menjadi CPNS dengan payung hukum Keppres yang dikeluarkan pada 2019.

“Beda kasus honorer K2 dengan bidan desa PTT. Mereka penggajiannya lewat APBN/APBD jadi lebih mudah diselesaikan. Selain itu dari 42 ribuan bidan itu, lebih dari 60 persen adalah golongan muda,” terang Bima.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan honorer K2. Dari 439 ribuan honorer K2 yang tersisa, mayoritas berusia di atas 35 tahun. Mereka juga menempati jabatan teknis administrasi.

“Kompetensi rata-rata honorer K2 sangat rendah. Indikatornya dilihat saat tes CPNS 2018, passing grade yang diberikan sudah di level bawah. Namun, dari 13 ribuan yang ikut, hanya 8 ribuan lulus tes CPNS,” terangnya. (rd)

 

Editor : Pebri Mulya