MENGAIS REZEKI: Sutarman Cs bersama dengan gerobaknya, menghibur warga saat melintas di jembatan KRL Dipo, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Depok, beberapa waktu lalu. FOTO : ARNET/RADARDEPOK
MENGAIS REZEKI : Sutarman Cs bersama dengan gerobaknya, menghibur warga saat melintas di jembatan KRL Dipo, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Depok, beberapa waktu lalu. FOTO : ARNET/RADARDEPOK

 

Menggantungkan hidup pada sebuah gerobak lengkap dengan sound system dan alunan musik dangdut, sepasang suami istri Sutarman (56) dan Muryati (51) harus jatuh bangun melangkahkan kaki puluhan kilometer bersama gerobak hitamnya, agar kehidupan ekonominya terus berlanjut.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM – Matahari belum bersinar, hanya suara kokok ayam yang terdengar. Gerobak hitam lusuh sudah bersiap ditunggangi Sutarman menyusuri Kota Depok, hingga pinggiran Ibu Kota Jakarta. Tampak Sutarman membersihkan perlahan beberapa sound system yang terpasang dalam gerobak.

Ia didampingi sang istri, Muryati dan rekannya Indaryana (47) tengah asyik merias wajah agar terlihat lebih menarik, saat mengais pundi-pundi rezeki.

Setidaknya, gerobak tersebut sudah mampu menghidupi dua orang anaknya yang sekarang duduk di bangku Sekolah dasar (SD), yaitu Putri dan Alfian.

“Biar sedikit yang penting halal, ini beruntung kita punya modal perlengkapan. Sebelumnya saya pernah mulung buat nafkahi keluarga,” ungkap Sutarman dengan mata berkaca-kaca.

Awalnya, suami istri ini aktif di salah satu home band pengisi hajat kampung ke kampung. Setelah menikah, mereka memilih keluar dan membangun hidup sendiri dengan hijrah ke Kota Depok, tepatnya di kawasan Citayam.

Singkat cerita, matahari sudah terlihat, langit pun mulai terang. Irama di putar memasuki Jalan Raya Citayam seiring dengan mengumpulkan rezeki dari warga dan pengendara yang melintas.

Sambil terus melangkahkan kaki, Sutarman yang didampingi Muryati membeberkan pendapatan perharinya yang harus dibagi lima orang. Di antaranya Indarya, dan kedua rekan Sutarman yang kerap membantu ketika fisik sudah minta diistirahatkan.

“Ya biasanya nggak kuat bawa sampai jauh, beda sama dulu yang masih oke,” ucap Tarman panggilan akrabnya.

Muryati menambahkan, kalau beruntung bisa meraup uang Rp500 hingga 700 ribu, itu pun sampai larut malam bahkan pagi menjelang. Tapi kalau begitu, ia keluar akan lebih siang berbeda dengan hari ini. “Ya kalau sepi cuma Rp200-300 ribu dan dibagi-bagi. Yang penting halal dan bersyukur,” imbuhnya.

Semangat mereka tak pudar begitu saja meski harus menempuh perjalanan puluhan kilometer. Hanya saja sesekali mengambil air minum dalam botol kemasan untuk dikonsumsi bersama. Muryati mengatakan, waktu dalam mengumpulkan uang tidak bisa dipastikan. Tetapi selama fisik masih sanggup, mereka akan terus mendorong gerobak dan menghibur setiap orang yang ditemui.

Muryati menghampiri warga berharap rezeki atas hiburan dangdut yang diberikannya. Setiap topi abu kelam terisi uang, segera dipindahkan ke salah satu tempat aman.

“Soalnya kalau pulang malam kita takut ada kejahatan, pernah kejadian ditodong tapi beruntung kita lawan, dibantu warga,” tutupnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya