Achmad Riza Alhabsyi. FOTO : AGUNG/RADAR DEPOK
Achmad Riza Alhabsyi. FOTO : AGUNG/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sebagai Bakal Calon Walikota Depok, Achmad Riza Alhabsyi menyoroti banyak hal yang masih menjadi persoalan di Kota Depok. Ia berkomitmen akan memperjuangkan dan menuntaskan sejumlah persoalan yang masih menghinggapi kota penyangga Ibu Kota. Di antaranya, permasalahan sampah, tata ruang kota, kemacetan, pendidikan, kemiskinan, dan kesehatan.

Habib Riza—sapaan Achmad Riza Alhabsyi—menyebutkan, salah satu masalah yang mendesak untuk diselesaikan di Kota Depok adalah sampah. Tumpukan sampah sering kali terlihat disejumlah ruas jalan. Ia menilai, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan, serta lemahnya manajemen pengelolaan sampah oleh pemerintah.          “Inilah yang perlu diperbaiki, guna mengurangi tumpukan sampah dan menghapus predikat yang kurang baik bagi Kota Depok,” ucap Habib Riza.         Masalah lainnya yaitu tata ruang kota. Habib Riza mengatakan, Undang-Undang Nomor 15 tahun 1999 yang menetapkan Depok sebagai kotamadya daerah tingkat II sesungguhnya mengharapkan Kota Depok yang luasnya 20.029 hektare itu menjadi kota atau daerah penyangga bagi Jakarta. Dengan demikian wilayah ini berfungsi sebagai daerah konservasi dan resapan air.

Untuk menjaga status daerah resapan air, tak kurang pemerintah menetapkan ketentuan membangun gedung (termasuk rumah), yakni building coverage ratio atau koefisien dasar bangunan dan koefisien daerah hijau.            “Hal yang menjadi persoalan krusial di Depok adalah tata ruang wilayah, Tetapi dasarnya peraturan memang untuk dilanggar, ketentuan yang menjadi syarat mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) itu cenderung diabaikan. Ini perlu dibenahi,” tegas Habib Riza.      Yang terjadi kemudian adalah laju pembangunan secara masif dan tidak terkendali. Habib Riza menyatakan, Kota Depok justru mengarah menjadi kota jasa perdagangan dan pendidikan. Maka tak mengherankan bila pembangunan perumahan sama pesatnya dengan pembangunan fasilitas perdagangan dan pendidikan. Menurut data tahun 2000, yang merupakan ruang terbuka hijau, baik berupa areal pertanian maupun pertamanan di Depok, tinggal 56,8 persen.

Bahkan dalam perencanaan pembangunan kota sampai tahun 2010 yang lalu, sasaran porsi ruang terbuka hijau hanya 50,12 persen, dan sama sekali tidak boleh rendah lagi. “Sayangnya, angka 50,12 persen itu justru telah tercapai sampai akhir tahun 2002. Ini berarti, untuk masa mendatang sudah harus lebih diperketat lagi adanya pembangunan yang mengambil ruang terbuka hijau, baik untuk perumahan maupun properti lain,” tegas Habib Riza kepada Radar Depok. Selain itu Habib Riza juga menyoroti soal masalah kemacetan. Menurutnya, perkembangan Kota Depok sekarang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Jakarta, sebagai kota penyangga di samping Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Memang ada pola tersendiri. Semenjak 1990-an Depok berkembang pesat dengan penambahan penduduk yang mencolok. Terutama dengan hadirnya beberapa universitas, di antaranya Universitas Indonesia,Universitas Gunadarma, dan perguruan tinggi lainnya. Sementara perkembangan ekonomi lain seperti perdagangan turut mengikuti perkembangan kemajuan Depok menuju kota mandiri. “Dengan perkembangan ini, maka wajar kalau keadaan lalu lintas di Kota Depok menjadi semakin ruwet. Ditambah lagi kurangnya prasarana, tata ruang, dan kesadaran dari para pengguna jalan. Ini juga harus menjadi perhatian, agar hal itu bisa teratasi,” terang Habib Riza.

`Sementara di sektor pendidikan Habib Riza mengungkapkan terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi. Yaitu biaya sekolah yang mahal, angka putus sekolah, upah guru swasta rendah, sertifikasi guru terkesan diskriminatif, serta kurangnya pembinaan kepada yayasan sekolah swasta.  Ia mengatakan, sebagai kota yang diapit oleh beberapa perguruan tinggi termasuk salah satunya adalah perguruan tinggi terbaik di Indonesia, seharusnya Kota Depok dapat menjadi ikon nasional dan sebagai salah satu kota pendidikan.

“Kehadiran universitas-universitas ternama ini seharusnya dapat mendukung kinerja Pemerintah Kota Depok untuk menjadi SMART CITY Misalnya, dalam penerapan teknologi berbasis IT yang bisa dijangkau bahkan sampai pada daerah perkampungan, peningkatan kinerja dan keterampilan aparatur pemerintahan, dan kerjasama strategis lainnya,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : M. Agung HR (IG : @agungimpresi)

Editor : Pebri Mulya