RAMAIKAN KERIAAN : Warga Tapos sedang membawa seserahan dalam rangkaian pagelaran seni ngebesan pada kegiatan Keriaan Orang Depok yang diadakan KOOD Kecamatan Tapos, Kelurahan Leuwinanggung. FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
RAMAIKAN KERIAAN : Warga Tapos sedang membawa seserahan dalam rangkaian pagelaran seni ngebesan pada kegiatan Keriaan Orang Depok yang diadakan KOOD Kecamatan Tapos, Kelurahan Leuwinanggung. FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

 

Sebagai organisasi yang peduli akan kebudayaan dan tradisi asli Depok. KOOD Kecamatan Tapos, betul–betul total dalam menjalankan visi misinya, sebagai pilar keutuhan budaya Depok di masyakarat. Tidak hanya moril, bahkan materil pun rela mereka korbankan, agar budaya Depok bisa tetap eksis.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO SIREGAR

RADARDEPOK.COM – Perbincangan yang menarik mengenai nasib budaya Depok, membuat Samsudin tak sadar kopi hitam di cangkirnya mulai tiris. Segera dia bergegas ke dapur untuk membuat kembali secangkir kopi hitam, untuk menemaninya meluapkan kegelisahannya.

Pria yang akrab disapa Alloy ini mengatakan, KOOD Tapos baru-baru ini membuat sebuah pentas seni akbar di bilangan Kelurahan Leuwinanggung Tapos, bertajuk Keriaan Orang Depok belum lama ini.

Alloy mengatakan, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata KOOD Kecamatan Tapos, dalam menghidupkan kembali budaya asli Depok khususnya di Kecamatan Tapos. “Kami membuat kegiatan Keriaan Orang Depok selama dua hari berturut–turut,” bebernya.

Dia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut tercatat hampir sepuluh ribu warga Kecamatan Tapos dan berbagai wilayah lainya hadir, untuk melihat pertunjukan seni akbar tersebut. “Alhamdulillah warga Tapos sangat antusias dengan kegiatan yang kami buat,” katanya.

Dia menjelaskan, dalam Keriaan Orang Depok tersebut menampilkan beberapa kesenian asal Depok seperti, adat pengantenan, budaya ngebesan dan dongang betawi, penyambutan penganten dan palang pintu betawi, pembacaan sampunan dengan adat sunda, tarian topeng betawi, tari jaipong sunda, pencak silat betawi, serta pencak silat sunda.

“Camat Tapos, Dadi Rusmiadi beserta ibu Ketua TP PKK Kecamatan Tapos bersedia menjadi model pengantin dalam kesenian ini. Kenapa ada budaya betawi dan sunda, karena Kecamatan Tapos dipengaruhi kultur betawi dan sunda,” tambahnya.

Keriaan Orang Depok yang begitu megah tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Berkat organisasi KOOD Kecamatan Tapos yang begitu professional, mereka bisa memenuhi kebutuhan biaya untuk melaksanakan kegiatan akbar ini.

“Biaya untuk kegiatan Keriaan Orang Depok kemarin menelan biaya  sekitar Rp100 Juta. Dana itu bisa terkumpul berkat kerjasama antar pengurus dan dibantu Saudagar di Kota Depok seperti Irfan, H. Yahman, H. Acep dan saya,” tutupnya.(*)

 

Editor : Pebri Mulya