Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

(Ketua Komisi Dakwah, MUI, Kota Depok)

 

KEBANYAKAN orang lupa dengan umurnya. Dalam perjalanan sehari-hari tidak merasakan bahwa umurnya terus bertambah dan bertambah. Sedikit demi sedikit umur itu berkurang jumlahnya. Bahkan tidak merasa bahwa sudah sekian banyak nikmat yang telah mereka nikmati dengan leluasa, tanpa mempedulikan umurnya.

Dalam kehidupan manusia selalu yang diingat adalah kenikmatan dunia saja. Padahal masih ada kenikmatan lain nya yang lebih nikmat daripada kenikmatan dunia. Yaitu kenikmatan akhirat. Dimana kenikmatan itu bisa diraih hanya dengan inden. Artinya bayar dulu, baru nanti akan dapat dimilikinya. Demikianlah nikmat yang berupa surga. Ibaratnya kita harus investasi terlebih dulu. Yakni investasi kebaikan. Siapa yang investasikan kebaikannya, maka kelak akan menuai kebaikan itu dengan panen yang berlipat ganda.

Tidak ada kesenangan yang gratis. Baik di dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Semua harus dibayar dengan jerih payah. Pengusaha kaya itu tidak tiba-tiba menjadi kaya raya. Tapi mereka berangkat dari sedikit kemudian berangsur-angsur naik hingga menjadi sukses. Demikian juga orang pintar itu tidak tiba-tiba kaya tanpa usaha. Mereka juga terlebih dulu belajar dengan bersusah payah untuk menuju sukses.

Demikianlah kehidupan itu ada seninya. Orang tua kita senantiasa berpesan : Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Usaha apapun yang dilakukan oleh seseorang pasti akan berbalas sebanding dengan usahanya. Al-Ujratu bi qadrit taab.” Upah itu sebanding dengan usahanya (kepayahan) yang dikerjakannya. Sehingga tidak layak jika ada orang tidak mau menggunakan kesempatan umurnya dengan kerjaan kebaikan.

Rasulullah SAW pun pernah berpesan : Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Artinya orang yang baik itu adalah orang yang sadar dengan keberadaannya. Di umur berapa dia sekarang. Tentunya ketika usia remaja, ia akan melakukan segala sesuatu yang sesuai (baik) dengan pekerjaan remaja.

Ketika di usia Tua, dia sadar bahwa yang dilakukan itu sesuai dengan umur tua pada umumnya. Makanya Allah SWT telah berfirman di dalam kitab suci Al-Qur’an : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian dan lihatlah apa yang sudah kalian kerjakan untuk masa depan.” Artinya semangat investasi harus dimiliki oleh orang Islam. Senantiasa berpikir bahwa apa yang dilakukan sekarang pasti menguntungkan di masa depan.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara menikmati umur kita ? Tentu saja kita melakukan aktifitas kita setiap saat dengan pertimbangan. Yaitu pertimbangan: menguntungkan jangka panjang atau tidak. Jangan sampai perbuatan yang kita lakukan ini hanya menguntungkan jangka pendek saja. Jadi harus merubah pola pikir kita dari instan menjadi semangat ber-investasi. Semangat melakukan kebaikan hari ini, kita nikmati hari kemudian.

Dan itulah yang dilakukan oleh para Petani. Yang selalu melempar benih tanaman ke tanah dengan semangat merawat sambil menunggu hasil beberapa bulan atau tahun kemudian. Semoga dengan ke-Islaman kita akan senantiasa mampu memupuk semangat menanam kebaikan masa depan. Wallahu alam bis shawab. (*)