MENUAI POLEMIK : Warga menunjukkan obat Ranitidine jenis tablet yang masih bisa dibeli di toko obat. Dinkes Kota Depok menyebutkan bahwa yang dilarang oleh BPOM adalah obat Ranitidine jenis sirup dan suntik atau injeksi. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MENUAI POLEMIK : Warga menunjukkan obat Ranitidine jenis tablet yang masih bisa dibeli di toko obat. Dinkes Kota Depok menyebutkan bahwa yang dilarang oleh BPOM adalah obat Ranitidine jenis sirup dan suntik atau injeksi. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Perintah penarikan obat lambung atau obat yang mengandung ranitidine yang berpotensi memicu kanker, ternyata belum digubris. Kemarin, sejumlah apotek di Kota Depok masih menjual obat yang dilarang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Salah satu apotek di Depok, di Jalan Kartini Raya  misalnya. Di sana masih menjual obat ranitidine ke masyarakat.

Salah satu pegawai apotek, SA mengatakan, apotek tersebut belum melakukan penarikan obat ranitidin ekarena belum ada info penarikan dari supliyer obat mereka.

“Belom ditarik sama suplayer obatnya. Masih dijual,” ujarnya.

Meski masih menjual obat tersebut, dia mengaku saat ini sudah tidak ada masyarakat yang membeli obat tersebut. Ini lantaran isu kanker yang terkandung dalam obat ranitidine.

“Mungkin masyarakat sudah tau beritanya, makanya gak ada lagi yang beli obat itu di sini. Saat ini kita masih nunggu supliyer  untuk menarik obat ini,” terangnya kepada i, Selasa (15/10).

Adanya hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok pun tengah menggodok rencana untuk melakukan pelarangan atau perintah penarikan obat lambung Ranitidine dari Kota Depok.

“Kami sudah melakukan koordinasi di tingkat pusat dan masih menunggu surat resmi untuk menarik ranitidine,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan, Rani Martina, kepada Radar Depok, Selasa (15/10).

Menurutnya, saat ini Dinkes sedang membuat surat edaran untuk diberikan kepada instansi kesehatan dan farmasi di Kota Depok, untuk segera menarik produk ranitidine.

“Sedang diproses suratnya sesuai arahan Kementerian Kesehatan,” ungkapnya.

Meski belum membuat surat edaran, pihaknya sudah melakukan langkah cepat mencegah beredarnya obat ranitidine ke masyarakat. Caranya dengan memberikan arahan melalui grup whatsapp (Wa) kepada pengusaha apotek di Depok.

“Sejak ada isu dan surat dari Kemenkes, kami sudah menginformasikan ke masing – masing apotek dan rumah sakit untuk tidak mengeluarkan obat tersebut melalui grup Whatsapp,” bebernya.

Perlu diketahui, perintah penarikan BPOM karena buntut dari temuan Badan Kesehatan Amerika, US FDA dan EMA (European Medicines Agency) yang menyatakan, bahwa senyawa ranitidin yang terkontaminasi N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dapat memicu kanker. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya