Mohammad Idris.
Mohammad Idris.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Peluang petahana Mohammad Idris diusung partai lain di Kota Depok terbuka lebar. Apalagi, peta politik yang sudah terbentuk : Koalisi Depok Bangkit (KDB), masih fleksibel membuka diri untuk kandidat yang layak diusung pada Pilkada Depok 2020.

Ketua DPD Partai Golkar Kota Depok, Farabi El Fouz mengatakan, sejauh ini pihaknya masih wait and see, serta membangun infrastruktur partai hingga ke level grassroot.

“Yang utama kan memanaskan mesin partai lagi, pasca Pemilu kemarin kan sempat cooling down, jadi harus dipanaskan dulu sambil memperkuat simpul-simpul di wilayah. Sehingga, ketika bergerak langsung melaju kencang. Tapi, kami masih mengukur juga,” tutur Farabi kepada Radar Depok, Jumat (25/10).

Ditanya terkait petahana yang masih belum fix diusung PKS, Farabi mengungkapkan, Golkar terbuka kepada siapa pun kandidat yang layak untuk diusung dan berpotensi menang. Hal ini bisa dilihat dari dari popularitas, kredibilitas dan juga kesiapan calon tersebut.

“Saya tidak ada masalah dengan Pak Idris, yang jelas Golkar terbuka dengan siapapun, termasuk kepada Pak Idris jika tertarik di Golkar. Tapi, untuk ini kami harus diskusi lebih lanjut untuk membahas visi misi,” ungkap Farabi.

Menurutnya, Golkar Depok ingin Depok semakin maju dan berkembang. Sehingga, sambung Farabi, siapapun yang ingin maju di Pilkada bersama partai berlambang pohon beringin, harus memiliki kesepahaman dan kesamaan visi misi.

“Perlu satu visi dan misi, Golkar ingin mengobati Kota Depok, ini yang perlu digarisbawahi, kami welcome dengan siapapun, kami tidak menutup kemungkinan dengan Pak Idris. Di 3 November besok, Golkar pun akan merayakan HUT dan deklarasi perihal pencalonan saya untuk maju di Pilkada,” tegasnya.

Sementara, Sekjen DPD PAN Kota Depok, Fitri Hariono menilai, saat ini peta politik masih cair dan banyak waktu untuk melakukan komunikasi serta lobi-lobi.

Untuk kontestasi Pilkada Depok 2020 mendatang, Alumnus IISIP Jakarta ini menuturkan, pesta demokrasi akan lebih seru ketika hanya ada dua pasangan calon yang bertarung.

“Lebih seru kalau head to head, makanya kami terus melakukan komunikasi politik. Termasuk dengan KDB kemarin. Meski belum ada pergerakan lagi, karena tiap partai memiliki kesibukan dan calon yang dijagokan. Tapi saya yakin akan mengerucut dan menjadi kekuatan yang besar, tegas Fitri.

Sikap PAN sendiri, sambung Fitri, baru akan ditentukan usai Kongres pada Februari 2020. Sebab, yang menentukan tetap di DPP. Sedangkan, di DPD sifatnya hanya memberikan rekomendasi dan melaksanakan arahan dari pusat.

“DPD hanya merekomendasikan ke DPP terkait kondisi politik di Depok dan juga calon-calon yang beredar. Nanti, mereka yang memutuskan,” ucap Fitri.

Terpisah, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Depok, Edi Sitorus mengatakan, masih fokus membangun infrastruktur partai dan peremajaan pengurus di tingkat PAC atau kecamatan.

“2 November nanti, kami akan menggelar Musancab  (Musyawarah anak cabang) serentak untuk 11 kecamatan,” kata Edi Sitorus.

Menurutnya, masih terlalu dini berbicara pencalonan. Sebab, tahapan pendaftaran calon baru dilakukan di triwulan pertama 2020. sehingga, pihaknya masih punya batas waktu untuk memutuskan mendukung kandidat tertentu.

“Masih jauh. Demokrat kan tiga kursi di DPRD, jadi kami bisa bergabung dengan partai yang memiliki tiket untuk mengusung sendiri, atau membawa calon sendiri dan membentuk koalisi dengan partai lain,” pungkas Edi.

Diketahui sebelumnya, kepada Harian Radar Depok, Walikota Depok, Mohammad Idris mengaku, belum dapat memastikan maju atau tidak pada Pemilihan Walikota 2020 mendatang. Karena saat ini dia masih menunggu partai yang akan meminangnya.

“Untuk saat ini saya belum bisa memastikan, kita liat saja nanti. Semua partai saya tunggu menyebut nama saya atau tidak, kalau nama saya tidak di sebut ya sudah,” ungkap Walikota Depok, Mohammad Idris, saat di temui di gedung Balai Rakyat 2, Kelurahan Sukmajaya, kemarin.

Dia juga menambahkan, jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak memberikan rekomendasi, maka dia akan menunggu partai lain yang bersedia mengusungnya.

“Kalau PKS tidak memberikan rekomendasi, ya tidak apa-apa. Nunggu dipinang sama yang lain. Kalau dari partai lain tidak ada yang minang juga, yaudah mau gimana lagi, berarti tidak nyalonin,” ucapnya.

Jika nanti ada partai yang mengusungnya, Idris mengungkapkan Wakil Walikota yang ideal menurutnya yaitu yang paham mengenai birokrasi. “Kalau masalah partai mana yang akan saya pilih, kita tunggu saja nanti, sekarang gausah berandai-andai. Harapannya saat ini ada partai yang melamar saya,” tuturnya.

Wakilnya nanti, lanjut dia, pokoknya tahu masalah birokrasi. Wakil wlaikota senang duduk di birokrasi dan senang untuk menyelesaikan SDM di birokrasi. Karena Walikota dan Wakil Walikota kedepannya harus banyak keluar. Artinya banyak komunikasi ke pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kalau perlu komunikasi ke luar negeri. “Ini demi mencari dana-dana tambahan untuk pembangunan di Kota Depok yang semakin Metropolitan,” tambahnya. (rd)

 

Jurnalis : Ricky Juliansyah

Editor : Pebri Mulya