TERDAMPAK PEMBANGUNAN UIII : Suasana pemukiman warga di kawasan RW 14, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, yang dikabarkan terdampak pembangunan UIII. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
TERDAMPAK PEMBANGUNAN UIII : Suasana pemukiman warga di kawasan RW 14, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, yang dikabarkan terdampak pembangunan UIII. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Uang kerohiman yang dijanjikan Kementerian Agama RI kepada warga penggarap lahan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), hingga kini belum juga dibayarkan.

Alasannya, pembayaran uang kerohiman yang dijanjikan akan dikenakan biaya pajak. Kemenag masih mau mendiskusikan kasus tersebut ke Ditjen Pajak.

Lebih dari dua minggu, warga belum juga menerima transferan uang kerohiman yang dijanjikan. Padahal warga telah menerima SK, dan rekening untuk menerima uamg ganti rugi yang telah dijanjikan.

Menurut Bagian Keuangan Ditjen Pendis Kemenag RI, Hanif, yang bertanggung jawab terhadap pembayaran uang kerohiman, mengaku belum melakukan pembayaran.

“Kami sudah kirim berkas ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk mencairkan uang kerohiman tanpa pajak, karena ini sifatnya santunan,” kata Hanif.

Tapi menurutnya KPPN belum juga mau mencairkan, karena KPPN dan Kemenag RI masih mendebat. KPPN menganggap pembayaran yang dilakukan dibebankan pajak. “Kami berupaya membela warga agar tidak terkena pajak,” kata Hanif.

Pihak kemenag juga mengaku sedang mencari fatwa agar pembayaran yang dilakukan tidak terkena pajak. “Ini tinggal tunggu keputusan ditjen pajak tentang pengenaan pajak bagi warga,” tukas Hanif.

Sebelumnya, Kekecewaan penggarap di lahan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), memuncak. Setelah di-PHP soal pembayaran uang ganti rugi pembebasan lahan. Selain, Surat Keputusan (SK) mau dikembalikan ke Kementerian Agama (Kemenag) RI, penggarap juga akan lapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Salah satu warga yang terdampak pembangunan UIII, Rio mengaku, belum menerima uang yang sudah di janjikan. Padahal jika benar, mereka akan angkat kaki untuk mencari tempat tinggal baru. “Ini uangnya saja nggak ada, saya mau pindah pakai apa,” singkat Rio yang memiliki kebun sengon dilahan UIII.

Warga penggarap UIII lainnya di RT1/14 Kelurahan Cisalak, Sukmajaya, Muhammad Akbar mengaku, telah tinggal di kawasan bekas RRI sejak tahun 1997. Bahkan, menurutnya ada juga yang tinggal sejak 1988. Dia datang untuk bercocok tanam disana, memanfaatkan lahan tidur sesuai dengan peraturan menteri.

“Sampai sekarang saya belum terima uang yang di janjikan, ATM masih kosong,” katanya kepada Radar Depok, Kamis (4/10).

Dia juga mengancam, akan melaporkan kasus tersebut ke KPK. Sementara pengembalian SK belum berjalan. “Kami akan laporkan ke KPK, nantinya kami juga akan kembalikan SK,” terangnya. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya