RELIGIUS : Ahmad Sofyan mengikuti pengajian Ulama dan Umaro di kantor Kelurahan Pondok Petir, beberapa waktu lalu. FOTO : DICKY/RADARDEPOK
RELIGIUS : Ahmad Sofyan mengikuti pengajian Ulama dan Umaro di kantor Kelurahan Pondok Petir, beberapa waktu lalu. FOTO : DICKY/RADARDEPOK

 

Belajar menjadi Qari tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu tahunan, sehingga mampu melafazkan kalam ilahi merdu didengar. Merasa yakin akan latihan yang ditempuh, Ahmad Sofyan mencoba mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

Laporan : Dicky Agung Prihanto

RADARDEPOK.COM – Sambil meneguk secangkir kopi di sebuah bale yang terdapat di balong ikan. Sofyan Hadi mengenang saat berlatih menjadi Qari. Pria yang kerap disapa Ki Balong Pamungkas ini mengatakan, keinginan menjadi Qari sudah mendarah daging, sehingga Ki Balong berusaha mewujudkan impiannya.

“Saya mendapatkan pelajaran dan latihan yang ketat,” ujar Ki Balong sambil menikmati singkong rebus.

Ki Balong mencontohkan, melantunkan Al Fatihah sehingga didengar merdu di telinga, dibutuhkan latihan selama satu tahun. Selain tajwid, Ki Balong berusaha melatih suara mulai pagi hingga dini hari. Dan dilakukan secara berulang hingga dia merasakan pas saat melantunkan ayat suci Al Quran. Metode gurah, merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memperlancar suara. Memantapkan hatinya dan kesiapan mengikuti perlombaan Qari.

Setelah yakin ilmu yang dipelajari, sambung Ki Balong Pamungkas, mulai mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dari tingkat kecamatan, hingga tingkat Kota Depok. Hasilnya, dia menjadi juara pertama sebanyak empat kali dan mengikuti MTQ tingkat Provinsi Jawa Barat mewakili Kota Depok.

“Saya masuk enam besar tingkat Provinsi Jawa Barat di PUS DAI beberapa waktu lalu,” kenang pria yang memiliki enam anak ini.

Suami dari Ayu Khoirunissa menuturkan, tidak patah arang lantaran belum menjadi juara ditingkat Provinsi Jawa Barat, Ki Balong kembali mengikuti perlombaan Qari di RRI Jakarta. Pada perlombaan di RRI, Ki Balong banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu yang didapatkan dari Qari di seluruh Indonesia yang mengikuti perlombaan. Menurutnya, kalah menang pada sebuah perlombaan merupakan hal biasa. Namun, pengalaman menjadi pembelajaran Ki Balong, dan kelebihan peserta lain menjadi motivasi Ki Balong memperbaiki diri.

“Seperti pesan KH Abdurrahman ketidak berhasilan adalah awal dari keberhasilan,” ucap Ki Balong. (*)

 

Editor : Pebri Mulya