UNIK : Salah satu gambaran KPPS unik di Kota Depok, dengan seluruh punggawanya adalah kaum hawa. FOTO : RICKY/RADAR DEPOK
UNIK : Salah satu gambaran KPPS unik di Kota Depok, dengan seluruh punggawanya adalah kaum hawa. FOTO : RICKY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Direktur Democracy and Elektoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi menilai hingga kini, dinamika kontestasi menjelang Pilkada Depok 2020 masih sangat dinamis.

Sebab, selain Partai Gerindra, PKS, PDIP, dan calon perseorangan yang diperkirakan akan mengambil panggung. Kini muncul dua bakal calon dari kalangan perempuan yang tentu menarik perhatian.

“Ada Ibu Qonita Luthfiyah dari PPP dan Ibu Farida Rachmayanti dari lima besar Pemira PKS. Sehingga semakin dinamis. Tinggal partai Golkar saya pikir belum mendeklarasikan calonnya,” kata Yusfitriadi kepada Radar Depok, Selasa (22/10).

Meski terlalu dini untuk menyimpulkan. Namun, sambung pria yang akrab disapa Kang Yus ini, sedinamika apapun politik menjelang Pilkada Depok, ia melihatnya yang akan mengambil panggung menjadi pasangan calon di Kota Sejuta Maulid, tidak akan lebih dari tiga pasangan calon. Dua dari partai politik dan satu pasangan perseorangan.

“Yang perlu dipahami semua kandidat. Pilkada bukan hanya sekedar koalisi yang gemuk atau kurus. Namun lebih kepada sosok atau figur yang bisa diterima di tengah masyarakat,” terangnya.

Misalnya Farida. Kata dia, dengan modal suara Pileg yang mencapai sembilan ribu lebih, maka figur dan sosoknya sudah mendapatkan tempat di tengah masyarakat. “Begitupun Ibu Qonita. Di tengah sumber daya politik perempuan yang sedang menjadi issu nasional, maka akan sangat berpeluang untuk mampu mengambil tempat di tengah masyarakat,” paparnya.

Hal ini, lanjut Kang Yus, tinggal penentuan posisi saja. Apakah akan jadi nomor satu atau nomor dua secara realitas politik. Sebab, seperti diketahui bersama, sosok Pradi Supriatna yang merupakan politisi Partai Gerindra, sudah ancang-ancang dengan mengkonsolidir partai untuk dijadikan koalisi.

Namun, Kang Yus menambahkan, sekali lagi bicara Pilkada, bukan hanya bicara partai koalisi tapi bicara figur dan sosok. Sehingga sangat mungkin koalisi gemuk tidak efektif dalam mengkonsolidir suara. Justru, bisa jadi malah yang koalisi kurus yang lebih efektif dengan figur yang kuat.

Sehingga bagi masyarakat, semakin banyak paslon yang mengambil bagian. Maka akan semakin diberikan pilihan-pilihan politik. Ini bentuk pendidikan politik bagi masyarakat.

“Mungkin pada Desember ini sudah mulai terlihat siapa yang diposisi nomor satu dan siapa yang diposisi nomor dua. Serta siapa berkoalisi dengan siapa. Khusus untuk Depok, kami dalam waktu dekat akan membedah hal ini,” pungkasnya. (cky)

 

Jurnalis : Ricky Juliansyah

Editor : Pebri Mulya