Beranda Metropolis Komunitas Chopper And Low Rider Street Depok (Closed) : Hilangkan Kenyamanan Hanya Demi Keunikan (2)

Komunitas Chopper And Low Rider Street Depok (Closed) : Hilangkan Kenyamanan Hanya Demi Keunikan (2)

0
Komunitas Chopper And Low Rider Street Depok (Closed) : Hilangkan Kenyamanan Hanya Demi Keunikan (2)
KOMPAK: Anak closed saling memamerkan sepedanya yang menjadi daya tarik tersendiri. FOTO : ISTIMEWA
Komunitas Choper dan Low Rider depok
KOMPAK : Anak closed saling memamerkan sepedanya yang menjadi daya tarik tersendiri. FOTO : ISTIMEWA

 

Para pecinta sepeda Low Rider, atau Chopper memang tidak mengindahkan kenyamanan saat menaiki sepedanya. Yang paling penting bagaimana sepedanya bisa menjadi yang paling unik, saat kumpul dengan penghobi lainnya.

Laporan: Rubiakto

RADARDEPOK.COM – Seorang remaja tanggung tampak asik mengendarai sepedanya di kawasan Gelora Olahraga Kostrad (Gor) Cilodong. Dia terus meliuk-liuk dengan sepedanya di tengah ramainya pesepeda lain yang berlalu-lalang.

Banyak mata tertuju pada sepeda si remaja ini. Bentuknya yang tak biasa, membuat pesepeda lainnya memalingkan mata untuk sekadar memerhatikan tunggangannya. Dengan bodi sepeda yang terbilang panjang, dan setangnya yang menjulang tinggi ke atas. Tampilan demikian ini membuatnya berbeda dengan sepeda pada umumnya.

Ya itulah sepeda low rider atau dikenal dengan sepeda ceper. Sepeda low rider merupakan sebuah sepeda dengan ciri khas ceper dan body frame, yang melengkung-lengkung.

Bentuknya yang unik, sepeda low rider memang secara khusus dimaksudkan penunggangnya untuk ajang bergaya. Hal ini diungkapkan Deny salah satu anggota dari Closed.

Meski terbilang sudah tak muda lagi, Deny sangat menggandrungi sepeda low rider dengan segala keunikannya. “Sepeda low rider itu, demi gaya menghilangkan kenyamanan. Yang penting gaya,” kata Deny.

Dia mengatakan, mengendarai sepeda low rider tak bisa dibilang mudah. Dengan bodi yang panjang dan rendah plus setang yang melebar ataupun menjulang, membuat sepeda ini meliuk-liuk saat ditunggangi.

Rasa kurang nyaman pun akan terasa bagi yang tak biasa, manakala berlama-lama mengendarai sepeda low rider. “Tapi yang penting itu tadi, demi gaya. Toh naik low rider juga enggak akan ngebut-ngebut,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pada dasarnya sepeda low rider itu ada tiga macam, yaitu yang classic dengan body yang agak standar. Lalu ada body panjang atau disebut limousine dan ada body pendek atau disebut cruiser.

Ketiga jenis sepeda itu bisa digolongkan sebagai sepeda low rider apabila memiliki ciri khas yang sama. Yakni body frame sepeda yang dipenuhi unsur lengkungan, atau biasa disebut rainbow frame. Selain itu, sepeda pun juga harus tampil seceper mungkin. “As low as possible,” kata Deny.

Setiap pesepeda low rider, akan memiliki kebanggaan dan mendapat apresiasi dari anggota lainnya. Jika sepeda low rider-nya merupakan hasil custom, dan memiliki bentuk unik dan ekstrem. “Di kalangan low rider yang penting adalah ide apa yang loe tuangkan dalam sepeda-loe. Kalau hasil kreasi sendiri akan makin disalutin,” bebernya.

Meski cenderung ekstrem dalam penampilan dan gaya, Joko mengatakan, komunitas pesepeda low rider merupakan salah satu pendukung kegiatan bersepeda untuk mengurangi dampak polusi. (*)

 

Editor : Pebri Mulya