Beranda Ruang Publik Memiliki Mental Pemberi

Memiliki Mental Pemberi

0
Memiliki Mental Pemberi


 

Oleh: K.H. Drs. Ahmad Mahfudz Anwar, MA

Ketua Badan Wakaf Indonesia, Kota Depok

 

Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menjadi muslim yang taat beribadah. Salah satunya agar rajin berbagi kepada sesama. Dimulai dari perintah zakat harta, zakat emas-perak, zakat penghasilan, hibah, bersedekah, infak sampai anjuran berwakaf. Kesemua itu merupakan syariat yang diberlakukan bagi setiap muslim (per-individu). Sebaliknya Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk meminta kepada sesama. Kalau toh ingin meminta, maka diperintahkan meminta langsung kepada Tuhan Allah SWT.

Di situlah letak indahnya ajaran Islam. Banyak nasehat Rasulullah saw yang berkaitan dengan pembentukan mental pemberi ini. Misal saja Rasulullah SAW mensabdakan dalam Haditsnya yang masyhur: al-yadul ulya khairun minal yadis sufla. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Hadits ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Pemberi itu lebih mulya dan terhormat dibanding mental peminta. Dalam istilah lain, mental muzakki itu lebih baik dari pada mental mustahiq.

Dalam kasus lain, seorang sahabat kaya raya yang berkonsultasi kepada Rasulullah SAW ingin mewasiatkan setengah hartanya untuk dihibahkan kepada orang lain. Tapi Rasulullah SAW melarangnya. Akhirnya yang boleh dihibahkan kepada orang lain hanya sepertiga hartanya saja. Selanjutnya beliau menasehati, bahwa mewariskan harta yang banyak kepada anak-anaknya itu lebih baik. Karena jangan sampai meninggalkan ahli waris yang fakir atau miskin, yang tentunya akan merepotkan orang lain. Jangan sampai anak-anaknya menjadi beban pemerintah atau beban tetangganya. Sehingga mewariskan anak-anak yang mandiri dalam hal ekonomi ternyata diajarkan oleh Islam.

Dalam kitab suci Al-Qur’an pun sudah ditegaskan bahwa orang yang memberi itu mempunyai posisi yang mulia di hadapan Allah SWT. “Maka adapun orang yang memberi dan dilandasi ketakwaan serta percaya akan balasan baik dari Tuhannya, maka akan diberi jalan (oleh Allah) yang mudah menuju kemudahan.” Artinya bahwa Allah SWT menyediakan jalan kemudahan bagi orang-orang yang bermental pemberi. Dan pemberi tidak harus menunggu kaya raya. Tapi dalam keadaan apa pun dia bisa memberi sesuatu kepada orang lain. Tentunya pemberian itu disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Jika kita memiliki harta sedikit, kita pun bisa sedekah –walaupun- dengan sedikit. Jika kita punya uang banyak, tentunya juga bisa berbagi dengan banyak. Jika punyanya ilmu, maka berbagi ilmu pun punya nilai positif dalam pandangan Allah SWT. Jika kita punya tenaga, berbagi tenaga untuk membantu orang lain juga bernilai positif. Maka Allah SWT memerintahkan agar kita mau saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Tapi dilarang menolong kejahatan. Kalau saja anjuran/perintah suci tersebut direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari maka dijamin masyarakat muslim akan mempunyai peran penting dalam berbangsa dan bernegara.

Dan semua proses kehidupan akan berjalan dengan ringan dan mudah. Jika semua individu muslim sudah memiliki mental pemberi. Mental menolong. Mental membantu sesama. Kemudahan bukan hanya untuk umat muslim, tapi juga untuk semua orang yang menginginkan kemudahan dalam hidup positifnya. Dan itulah makna Islam Rahmatan lil alamiin. Wallahu alam. (*)