Beranda Metropolis Minimalisir Cidera Jarum Suntik di Rumah Sakit

Minimalisir Cidera Jarum Suntik di Rumah Sakit

0
Minimalisir Cidera Jarum Suntik di Rumah Sakit
BERIKAN PEMAPARAN  : Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan FIK UI, Enie Novieastari memberikan pemaparan dalam Seminar dan Lokakarya Kebijakan Penggunaan Safer Needle Devices (SND) dalam Mencegah Cedera Jarum Suntik (CJS) dan Benda Tajam Lain di Rumah Sakit di Auditorium Pascasarjana FIK UI, Kamis (31/10). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BERIKAN PEMAPARAN  : Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan FIK UI, Enie Novieastari memberikan pemaparan dalam Seminar dan Lokakarya Kebijakan Penggunaan Safer Needle Devices (SND) dalam Mencegah Cedera Jarum Suntik (CJS) dan Benda Tajam Lain di Rumah Sakit di Auditorium Pascasarjana FIK UI, Kamis (31/10). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Organisasi Perkumpulan dan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) bekerjasama dengan Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Keperawatan, menggelar kegiatan Seminar dan Loka Karya, di Auditorium Gedung Pasca Sarjana Ilmu Keperawatan Lantai 8, Kamis (31/10) .  Peserta yang didominasi dari rumah sakit mendapatkan ilmu bertajuk kebijakan penggunaan Safer Needle Device (SND) dalam Mencegah Cedera Jarum Suntik (CJS) dan Benda Tajam Lain di rumah sakit.

Perwakilan Perdalin Bagian Pengurus Badan Organisasi, Gortap Sitohang mengatakan, tujuan acara tersebut memberikan wawasan pengetahuan dan informasi dalam penggunaan jarum suntik atau benda benda tajam lainnya. Supaya tidak ada yang menjadi korban.

Berdasarkan data WHO akibat benda tajam khususnya jarum suntik pada tenaga kesehatan  mencatat, 40 persen dari 16 Milliar suntikan dengan peralatan injeksi digunakan berulang kali (reused), menyebabkan cedera dan menyebarkan penyakit menular seperti hepatitis, HIV Aids.

“Cedera Jarum di Asia seperti Cina dan Taiwan cukup tinggi ada 64,9 % perawat di salah satunya rumah sakit di Nanjing mengalami CJS. Dengan demikian dari kecelakaan itu ada 420 RS terakreditasi di Taiwan memilik program pengawasan terhadap insiden ini,” ucapnya.

Untuk mencegah hal tersebut, lanjutnya dapat dilakukan dengan cara : Middle jarum untuk yang safety, menyarungi jarum setelah dipakai, memasukan jarum ke tempat safety box yang aman, dan membuang jarum jika setelah selesai dipakai dimasukkan ke kontainer safety box.

“Visi dan misi kita rencana akan memasukkan beberapa regulasi ke Permenkes No.27 Tahun 2017 tentang penyuntikan yang aman  yaitu memasukan penggunaan Needle  Safety Device (NSD), dan  RS dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk kecelakaan ini dapat dicover dalam masalah pembiayaan karena selama ini belum,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan, Hanny Handayani mengatakan, masalah CJS yang ada paling rentan terkena adalah perawat. Sehingga perlu ada perhatian khusus dan pencegahan supaya tidak terjadi korban lagi.

“Untuk penggunaan jarum suntik sekarang ini belum safety. Karena masih ada setelah dipake jarum suntik kembali digunakan kembali dan rata-rata mayoritas masih memakai tutup kasih biasa sehingga sangat rentan terkena penyakit dalam atau virus,” jelas Hanny.

Perlu diketahui, pesertanya dari RSCM, RS Persahabatan, RS Gatot Subroto, RS Fatmawati, RS Pusat Otak Nasional (PON)  Indonesia, Jantung Harapan Kita, dengan beberapa multi disiplin dari berbagai profesi sebanyak 284 orang. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya