Beranda Pendidikan Puncak Dies Natalis ke-53 : UP Gelar Wayang Kulit, Implementasikan Pancasila

Puncak Dies Natalis ke-53 : UP Gelar Wayang Kulit, Implementasikan Pancasila

0
Puncak Dies Natalis ke-53 : UP Gelar Wayang Kulit, Implementasikan Pancasila
ISTIMEWA
ISTIMEWA

 

Masih dalam rangkaian Dies Natalis ke-53, Universitas Pancasila (UP) mengadakan pagelaran Wayang Kulit dengan Lakon Brojodento Labuh di halaman Fakultas Hukum, Kampung Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Tampil sebagai Dalang dalam pagelaran wayang kulit tersebut Ki Anom Suroto dan Ki Aji Bayu Pamungkas. Selain itu juga ada pesinden dari Hesti Rahayu di halaman kampus Fakultas Hukum UP sebagai puncak dari Perayaan HUT ke-53.

Turut mengundang masyarakat di sekitar kampus dan penggemar pagelaran wayang selain sebagai pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga pusat pengabdian kepada masyarakat sehingga terbuka dalam menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat secara luas.

Rektor Universitas Pancasila (UP) Wahono Sumaryono mengatakan, pagelaran wayang kulit berlakon Brojodento Labuh ini untuk implementasi Pancasila dan melestarikan budaya nasional yang penuh dengan pesan moral yang baik bagi kehidupan sehari-hari dan tidak pernah lekang dari dinamika zaman.

“Ini artinya untuk menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila juga memerlukan stamina kekuatan bangsa yang solid. Mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila yang direfleksikan dalam pesan moral pada pagelaran wayang maka diharapkan dapat menjadi kampus yang unggul dan terkemuka berdasarkan nilai-nilai Pancasila,” ujar Sumaryono.

Pergelaran wayang kulit jika dimaknai atau dibaca, hanya sekadar tontonan maka akan pendek tertelan waktu, tetapi jika simbol yang menjelaskan situasi bangsa dan negara atau dunia saat ini tentunya akan menjadi menarik.

“Karena menarik, maka penonton akan mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dibalik tontonan wayang kulit tersebut, baik itu bagi masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia,” Ketua Panitia Pergelaran Wayang Kulit Universitas Pancasila 2019, Ade Saptono.

Ade yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila ini melanjutkan, pihaknya memainkan simbol kejadian kekinian dalam pergelaran Wayang Kulit, maka akan menarik dan tak akan hilang. Mainkan perankan sesuai dengan momentum kekinian, karena jika momentumnya tidak sesuai maka masyarakat juga tidak bisa menikmati tontonan dan tuntunan.

Lakon Brojodento Labuh yang menceritakan Brojodento sebagai putra bangsawan Negeri Pringgondani punya hak menjadi Raja Pringgodani, namun yang bersangkutan bersedia menyerahkan hak tersebut tanpa pamrih kepada anak kakak perempuannya (Dewi Arimbi), yaitu Raden Gatotkaca.

Sebelum pelantikan Gatotkaca sebagai Raja, Brojodento diprovokasi, dibujuk-bujuki, diiming-imingi, dengan segala cara dan akal busuk Sengkuni. Di awal sang bangsawan terpengaruh. Tapi, akhirnya sadar dan memilih Labuh, yaitu mengabdi dan bekerja sepenuh hati untuk kemajuan kerajaan (institusi).

Dalam konteks Bangsa Indonesia, saat ini telah dilantiknya presiden dan sudah terbentuknya kabinet. Kerukunan kabinet Indonesia Maju Jokowi menjadi menarik semua masuk dalam satu kemajemukan Indonesia.

“Dalam cerita Wayang juga seperti itu semua berkumpul bersama membangun kerajaan. Jika ini terjadi maka pembangunan akan terjadi dua kali lipat lebih cepat yang menggambarkan sungguh-sungguh seperti itu,” ucap Ade. (*)

 

Editor : Pebri Mulya