Beranda Utama Silpa Depok 2019 Capai Rp615.471.000.000

Silpa Depok 2019 Capai Rp615.471.000.000

0
Silpa Depok 2019 Capai Rp615.471.000.000
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok, kembali membengkak. Sedari 2013 hingga 2019, Silpa Kota Depok selalu diatas Rp500 miliar. Tahun ini, Silpa Depok berada di kisaran Rp615.471.000.000. Rekor tersebesar Silpa di 2015 mencapai Rp1,05 triliun.

Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yeti Wulandari mengatakan, besarnya Silpa sebenarnya tidak menyalahi aturan. Tetapi, di sisi lain juga perencanaan anggaran harus benar-benar dilihat, apa yang salah hingga akhirnya tidak mencapai prioritas. Sehingga bisa menghasilkan Silpa yang besar.

“Saya melihat memang tiap tahun tren Silpa ini selalu ada dalam jumlah yang lumayan besar, di atas Rp500 miliar” ucapnya kepada Radar Depok, Selasa (5/11).

Dia mengatakan, penyebab adanya Silpa pertama, pada saat pembelian lahan untuk sekolah atau jalan lalu ada kendala dan akhirnya menjadi Silpa. Kedua dalam hal lelang, akhirnya juga tidak berhasil dan tercapai sehingga menghasilkan Silpa.

“Terkait masalah perencanaan anggaran, kami memang harus benar-benar memberikan prioritas terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Silpa tahun ini Rp615.471.000.000,” lanjut Yeti.

Badan Anggaran (Banggar) saat ini sedang membahas APBD 2020. Mudah-mudahan harus benar-benar disikapi. Tetapi, dua tahun yang lalu, adanya Silpa yang besar membuat Kota Depok tertolong, karena pada saat itu, adanya masalah dari pusat yang akhirnya Kota Depok tidak mendapatkan Dana Alokasi Umum (DAU), akhirnya hal inilah  tertutupi.

“Jadi di sisi lain kalau kita bicarakan masalah Silpa ini, sebenarnya tidak bisa hanya memandang dari satu sisi, karena pasti masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya,” tambahnya.

Masalah bunganya Silpa di bank, biasanya Pemkot Depok melaporkan secara intens ke DPRD Depok saat pembahasan baik itu di Komisi B atau di Banggar. “Kalau bunganya ada nanti akan terdeteksi,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Hardiono mengungkapkan, iya sejauh ini memang Silpa tahun ini Rp615 miliar, tapi itu belum fix. Perincian Silpa baru bisa dilihat di awal 2020, karena dananya masih digunakan untuk menutup defisit belanja.

“Untuk masalah sisa berlebih biasanya karena ada keterlambatan dana yang turun dari pusat,” singkatnya kepada Radar Depok, Selasa (05/11).

Menimpali tingginya Silpa yang terjadi saban tahun. Pakar Hukum Tata Negara Universitas Parahyangan Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf menyebutkan, Silpa bisa disebabkan tiga faktor, yaitu buruknya perencanaan, kapasitas pelaksanaannya tidak optimal, kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung pada pelaksanaan itu.

“Misalnya kebijakannya terkait infrastruktur, tetapi dia beralih kepada yang tidak berkaitan dengan kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Jika Silpa di dapat dari hasil belanja tidak langsung, seperti untuk kebutuhan pegawai itu bagus. Tetapi sebaliknya, jika di dapat dari biaya pembangunan dan biaya publik, itu sangat merugikan.

“Untuk itu perlu adanya evaluasi, teguran serta perbaikan kinerja, dan pergeseran anggaran yang tidak pas untuk Kota Depok. Sudah bertahun-tahun selalu di atas Rp500 miliar,” tandasnya.(rd)

 

Fakta dan Data Silpa Depok :

2013 :

– APBD Rp1,8 Triliun

– Silpa Rp587 Miliar

 

2014 :

– APBD Rp2 Triliun

– Silpa Rp756 Miliar

 

2015 :

– APBD Rp3,2 Triliun

– Silpa RP1,05 Triliun

 

2016 :

– APBD Rp2,8 Triliun

– Silpa Rp600 Miliar

 

2017 :

– APBD Rp2,7 Triliun

– Silpa Rp545 miliar

 

2018 :

– APBD Rp2,8 Triliun

– Silpa Rp765 Miliar

 

2019 :

– APBD Rp3,2 Triliun

– Silpa Rp615.471.000.000

 

Penyebab Silpa :

– Buruknya perencanaan

– Kapasitas pelaksanaannya tidak optimal

– Kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung pada pelaksanaan itu

 

Solusi Silpa Besar :

– Perlu adanya evaluasi, teguran serta perbaikan kinerja, dan pergeseran anggaran yang tidak pas

 

Jurnalis : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71), Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah)

Editor : Pebri Mulya