Nikah Massal di Mekarsari
PERSIAPAN :  Sejumlah panitia nikah massal gratis berfoto di Masjid Al Maghfiroh, Kelurahan Mekarsari, Cimanggis, Selasa (3/12). FOTO : LULU/RADAR DEPOK
Nikah Massal di Mekarsari
PERSIAPAN : Sejumlah panitia nikah massal gratis berfoto di Masjid Al Maghfiroh, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Selasa (3/12). FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, CIMANGGIS – Nikah massal gratis yang akan dilaksanakan di Masjid Al Maghfiroh, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Minggu (22/12) disambut antusias. Bagaimana tidak, dari kuota 15 pasang, pendaftar mencapai 5.000 pasangan lebih.

Ketua pelaksana, Wido Abu Umar mengungkapkan, pendaftaran dibuka sejak 1 Oktober hingga 30 November, dengan jumlah pendaftar lebih dari 5000 pasangan yang ingin mengikuti nikah gratis.

“Kegiatan ini, bertujuan memutuskan tali maksiat generasi muda yang masih berpacaran. Karena tagline kita “Stop Pacaran Ayo Menikah,” jadi diharapkan tidak adalagi remaja yang menyalahi syariat agama,” ucapnya kepada Radar Depok, Selasa (3/12).

Ia menjelaskan, dari ribuan pendaftar, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, seperti memiliki pasangan, bukan pasangan nikah siri, tidak mampu, membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT, RW dan Kelurahan dan membuat surat numpang nikah dari Kantor Urusan Agama (KUA) Cimanggis.

“Tentu dari sekian banyak akan kami pilih yang memang sesuai dengan persyaratan,” jelasnya.

Wido menambahkan, yang belum memiliki pasangan pun dapat mengikuti nikah massal dengan persyaratan, buat SKTM  dari RT, RW serta Kelurahan, siap mengikuti proses ta’aruf tim lembaga ta’aruf dan membuat surat numpang nikah dari KUA setempat ke KUA Cimanggis.

“Kegiatan ini, sudah yang ketiga kali dilakukan. Sebelumnya dilakukan pada 2016 dan 2018. dan untuk tahun 2019 ini, kuota kami hanya 15 pasangan,” tambahnya.

Dari 5.000 pendaftar, pihaknya melakukan seleksi menjadi 15 pasangan. Namun, sejauh ini baru mendapat 12 pasangan yang memenuhi kriteria. Sebab, kebanyakan pendaftar masih usia belia atau di bawah 19 tahun.

“Banyak anak usia muda yang mendaftar, tentu kita harus sleksi dan mengikuti ketentuan pemerintah yang mewajibkan usia pernikahan minimal 19 tahun. Maka kita juga tidak akan menentang ketentuan-ketentuan tersebut,” ujarnya.

Agenda ini, kata Wido, juga merupakan syiar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Karena, banyak pasangan 16 hingga 17 tahun yang ingin ikut kegiatan ini karena sudah hamil di luar nikah.

“Selain itu juga, kita memberikan solusi berupa nikah gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami juga sudah melakukan gladiresik dan memberikan busan pengantin kepada 12 pasang dan masih menunggu pasangan lain yang memenuhi persyaratan,” lengkapnya.

Tak hanya itu, pasangan yang akan mengikuti nikah massal gratis akan mendapatkan fasilitas berupa buku nikah resmi, busana pengantin, perasmanan, bingkisan berupa alat rumah tangga. (cr1)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah)

Editor : Pebri Mulya