bobie hoe bantu bayi
PEDULI : Disela resesnya di Kota Depok, Rabu (4/12). Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar), Abdul Harris Bobihoe (kanan) menjenguk Akhtar Ghazy Arkananta (2), bayi asal Payakumbuh Padang, Sumatera Barat yang memiliki sejumlah kelainan. FOTO : JUNIOR/RADAR DEPOK
bobie hoe bantu bayi
PEDULI : Disela resesnya di Kota Depok, Rabu (4/12). Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar), Abdul Harris Bobihoe (kanan) menjenguk Akhtar Ghazy Arkananta (2), bayi asal Payakumbuh Padang, Sumatera Barat yang memiliki sejumlah kelainan. FOTO : JUNIOR/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Disela resesnya di Kota Depok, Rabu (4/12). Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar), Abdul Harris Bobihoe menjenguk Akhtar Ghazy Arkananta (2), bayi asal Payakumbuh Padang, Sumatera Barat yang memiliki sejumlah kelainan. Di antaranya, usus dua belas jarinya menjulur ke luar perut.

Politikus Gerindra itu menjenguk Akhtar di kediaman bibinya, di RT8/4, Kelurahan Kalibaru, Cilodong. Adapun kedatangannya untuk menunjukan rasa empatinya terhadap orang tua Akhtar, Latifa Armila (23) dan Arga Saputra (24).

“Tentunya saya sangat prihatin. Makanya begitu dapat info, saya langsung menunju lokasi yang bersangkutan,” ungkapnya kepada Radar Depok.

Dirinya pun berjanji akan mengkomunikasikan hal ini kepada Kementerian Kesehatan, agar Akhta bisa segera ditangani lebih baik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari orangtuanya, sambung Harris, pengobatan sudah dilakukan sejak usia empat bula. Menginjak usia dua tahun, sebetulnya Akhtar sudah diperbolehkan untuk dioperasi. Namun tiga kali rencana operasi di RSCM gagal, karena terkendala pada alat bantu yang harus disediakan, tapi diluar BPJS.

“Nah hal inilah yang patut menjadi atensi,” terangnya.

Sebelumnya, Latifa dan Arga setelah menikah, memilih merantau ke Kepulauan Riau menjaga sebuah toko guna menghidupi Akhtar yang masih dalam kandungan. Ketika itu sekitar tahun 2016.

Arga bercerita kepada Radar Depok, usai istrinya melahirkan kondisi Akhtar cukup memprihatinkan. Usus dua belas jari Akhtar terburai ke luar perut hingga selangkangan.

Usaha pengobatan pun terus dilakukan Latifa dan Arga guna memulihkan kondisi Akhtar. Bahkan rumah sakit di Payakumbuh hingga rumah sakit di Kota Padang mereka datangi, demi kesembuhan anaknya. Namun, perubahan tak kunjung terlihat.

“Sekarang saya sudah nggak kerja. Saya harus fokus jaga Akhtar 24 jam, perlu ekstra kalau tidak bisa fatal, akhtar bisa membiru karna tidak bisa bernafas,” tutur Arga berkaca-kaca.

Arga kembali melanjutkan soal pembiayaan hidup Akhtar selama ini, uluran tangan para dermawan yang ia tidak sebutkan. Sampai sekarang membiayai Akhtar selama 2 tahun.

“Biaya pengobatan bisa mencapai Rp5 hingga 6 juta. Belum lagi kain kasa, selang, susu, cairan Nhcl (antiseptik), semua harus diganti setiap hari. Kalau tidak Akhtar rewel, karena kasanya lengket dengan usus jika lebih dari 3 jam,” paparnya.

Satu prinsip Arga dan Latifa, mereka tidak akan meneteskan air mata di depan Akhtar. Itu pesan yang didapat sewaktu di Payakumbuh sebelum dirinya melangkah ke Ibu Kota menerobos rujukan ke RSCM. Namun hingga saat ini tidak ada penanganan serius.

“Pesan itu begitu kuat mas waktu saya mau ke Jakarta, terdengar jelas banget. Makanya, sampai sekarang kita berdua nggak pernah nangis depan Akhtar,” punglas Arga. (rd)

 

Jurnalis : Junior Williandro, Arnet Kelmanutu (IG : @kelmanutuarnet)

Editor : Pebri Mulya