Pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok, Dani Ramadani.
Pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok, Dani Ramadani.
Pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok, Dani Ramadani.
Pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok, Dani Ramadani.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Berbeda dengan tahun sebelumnya yang terus naik. Tahun ini penderita HIV/Aids di Kota Depok ada penurunan Orang dengan HIV Aids (ODHA) baru. Tercacat, dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) periode Januari hingga November 2019 ada 138 ODHA baru. Angka tersebut berbeda dengan 2018 yang mencapai 220 penderita baru ODHA selama setahun.

Kepala Bidang (Kabid) Penanggualangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Depok, Umi Zakiah mengungkapkan, saat ini di Kota Depok ada 138 jiwa HIV/AIDS. Data itu dari Januari sampai November 2019.

Menurutnya, angka ini cenderung turun jika dibandingkan dengan data di 2018 ada 220 penderita HIV AIDS baru. “Mudah – mudahan angkanya tidak bertambah,” ucapnya kepada Radar Depok.

Umi menyebutkan, guna  mencegah bertambahnya jumlah HIV/Aids pihaknya melakukan beberapa upaya. Seperti, sosialisasi kepada siswa SMA, mahasiswa, anak jalanan, dan masyarakat di Depok. Selain itu, pihaknya juga melakukan screening tes HIV bagi seluruh ibu hamil dan mobile HIV, pada masyarakat yang masuk kategori dengan faktor resiko penularan HIV/Aids. “Upaya pencegahan terus kami maksimalkan,” ujarnya.

Sementara, untuk penanganan ODHA, Dinkes membuka layanan konseling HIV di seluruh puskesmaas dan RSUD. Begitu juga di rumah sakit swasta yang sudah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan. Pemerintah juga memberikan perawatan dukungan dan pengobatan, berupa layanan terapi antiretroviral (ART) di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak dan RSUD Depok. “Satelitnya di Puskesmas Pancoranmas, Cipayung dan Cimanggis,” bebernya.

Tak hanya pelayanan medis, lanjut Umi, Dinkes juga memberikan pelayanan non medis, seperti supporting berupa pelatihan keterampilan dari Dinas Sosial, pendampingan akses layanan ARV berkerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). “Kami berupaya memberikan perawatan yang maksimal bagi HIV di Depok,” tegasnya.

Terpisah, Pengurus Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok, Dani Ramadani mengungkapkan, berdasarkan data dari kader pendamping ODHA, saat ini mencatat ada 83 kasus HIV/Aids baru yang terjadi di Depok pada 2019. “Kalau total data ODHA tahun 2018 ada 1.079 orang,” katanya kepada Radar Depok, Minggu (1/12).

Dia mengungkapkan, penangan bagi HIV/Aids di Depok cukup baik. Pelayanan medis yang memadai dari Pemerintah Kota Depok, dan juga pendampingan dari kader ODHA, para penderita bisa terus hidup sehat dan bugar.

Hanya saja dia mengaku, masih ada beberapa fasilitas kesehatan yang kurang. Semisalnya, seperti layanan anak dengan HIV, persalinan ibu dengan HIV, pemeriksaan CD4, dan pemeriksaan Viraload. “Sejauh ini sudah lumayan baik pelayanan kesehatan bagi ODHA di Depok,” bebernya.

Dia menambahkan, walau terbilang mematikan, penyakit ini bisa mengendalikan sakitnya. Asal, rutin mimum obat dan ikut arahan dokter serta melaksanakan perilaku hidup yang sehat. Maka dari itu, dukungan dari masyarakat sekitar juga sangat penting bagi kesehatan mereka. “Mari kita lebih peduli dan membantu mereka melewati masa  sulit ini,” ajaknya.

Dia menambahkan, selain penangan medis, penyakit ini juga membutuhkan beberapa bantuan non medis seperti pelatihan keterampilan. Pelatihan kader pendamping bagi masyarakat serta lapangan pekerjaan bagi para penderita. “Kalau bisa pelayanan kesehatan semakin disempurnakan, agar bisa tetap berobat di Depok tidak harus ke luar kota,” tandasnya.(rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya