permainan klasik di judal jadul
HIBURAN EDUKATIF : Gerai Judal Jadul di Dmall, Kecamatan Beji,  Depok. FOTO : DEVINA/RADAR DEPOK
permainan klasik di judal jadul
HIBURAN EDUKATIF : Gerai Judal Jadul di Dmall, Kecamatan Beji,  Depok. FOTO : DEVINA/RADAR DEPOK

 

Tak lagi bingung ketika rindu jajanan ala 90-an. Judal-jadul memberikan sensasi saat zaman dahulu, ketika generasi millenial masih belum lahir. Terutama permainan-permainan atraktif yang berbentuk fisik.

Laporan : Devina

RADARDEPOK.COM – Nurdin, Pemilik Judal Jadul,  memberikan konsep nostalgia bagi para generasi 1980-1990’an untuk mengingat kembali masa-masa sekolah dulu. Berawal dari murid-murid binaan Nurdin dalam dunia kerajinan tangan. Pada saat itu, Nurdin mempunyai ide untuk mengembangkan bakat para muridnya yang lebih dari sekedar kerajinan tangan,  yaitu membuat alat-alat dan jajanan ala tahun 1980-1990’an. Produknya pun beragam, dimulai dari makanan kecil, seperti permen karet, permen susu, kerupuk kemplang, hingga mainan, seperti congklak, topeng-topengan, dan gamelan mini.

Tak hanya itu, Nurdin menjelaskan bisnis tersebut bertujuan untuk mengurangi penggunaan gawai berlebihan di era serba teknologi saat ini. Dengan adanya mainan-mainan klasik yang ia jajakan, diharapkan dapat meminimalisir dampak teknologi pada anak usia dini.

Nurdin juga mengatakan, rata-rata konsumennya adalah orang-orang yang cenderung klasik dan suka dengan barang-barang antik. Konsumen tersebut biasanya yang merasa rindu akan suasana di era tersebut. Berpusat di Bogor, Judal jadul meraup omzet 100 juta per bulan dengan segmentasi pasar menengah ke atas.

“Harganya pun kami usahakan tetap terjangkau, mulai dari 5 ribu sampai dengan 150 ribu saja. Kami juga biasa buka gerai sesuai segmentasi, ada yang di Botani Square,  Cibinong City Mall, Cibubur Junction,  dan di Dmall,” tutur Nurdin kepada Radar Depok.

Untuk mendapatkan produk-produk zaman dulu, tidak murni hanya dari murid saja, tetapi Nurdin juga diperlukan survei. Untuk melakukan survei, menurutnya pun tak mudah, karena harus mencari ke pelosok-pelosok daerah. Selain itu, para produsen harus mempunyai konsistensi dalam produksi dalam hal ini kami juga menetapkan batas waktu produksi.

“Kedepannya, kami punya cita-cita memiliki tempat wisata bernuansa alami. Jadi, kami akan sisipkan pasar yang menjual barang-barang antik dan jajanan-jajanan zaman dulu, tapi itu baru rencana, semoga terwujud,” tutupnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)