Biaya Murah Jadi Pilihan Pencari Suaka

In Metropolis
imigrasi mendata turis
MENDATA: Petugas Imigrasi Kota Depok melakukan pendataan dan pengawasan terhadap imigran pengungsi atau pencari suaka dikawasan Jalan Jambu, Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan, beberapa waktu lalu. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Indonesia menjadi salah satu tempat transit bagi pencari suaka, dan pengungsi yang akan menuju negara ketiga. Hal tersebut lantaran masyarakat Indonesia dianggap ramah, dan biaya hidup lebih murah.

Kasubsi Intelijen Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kota Depok, Masjoko Ardianto Wibowo menilai, Indonesia dikenal sebagai negara ramah, belum lagi biaya hidup yang murah menjadi alasan para pengungsi memilih Indonesia sebagai tempat transit.

Belum lagi mayoritas muslim sehingga warga timur tengah yang juga mayoritas muslim merasa aman untuk ditempati.

“Kita mayoritas muslim, belum lagi, biaya hidup di Indonesia murah, dan masyarakat kita dikenal ramah,” kata Masjoko.

Dia mengatakan penyebaran imigran banyak terdapat di kawasan Sawangan dan Bojongsari, karena mereka masih bisa mendapatkan rumah dengan harga sewa lebih murah. Selain itu, dia juga biasa menempati rumah susun dan kontrakan yang ada di Kota Depok.

“Mereka tersebar, berbaur dengan masyarakat, dengan mencari rumah sewa yang terjangkau,” kata Masjoko. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

PSHT bantu tenaga medis

PSHT Depok Berbagi Jamu dengan Tenaga Medis

PEDULI : Keluarga Besar PSHT barikan bantuan kepada tim medis di RS Brimob, Sabtu (18/04).

Read More...
BLT di negeri jepang

Di Jepang, Tiap Warga Dapat Rp14,5 Juta Hadapi Korona

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Pemerintah Jepang tengah serius untuk mengentaskan penyebaran virus Korona. negara dibawah kepemimpinan Perdana

Read More...
APD kreasi dari UI

UI Kembangkan APD Respirator

DIKEMBANGKAN : Tim ahli dan peneliti Universitas Indonesia mengembangkan prototype Alat Pelindung Diri (APD), dalam

Read More...

Mobile Sliding Menu