hotel genggong
USANG : Hotel Geng Gong yang kini terbengkalai di Jalan Raya Jakarta–Bogor KM30 Kecamatan Cimanggis Kota Depok, menjadi lahan kosong tak berpenghuni. FOTO : LULU/RADAR DEPOK
hotel genggong
USANG : Hotel Geng Gong yang kini terbengkalai di Jalan Raya Jakarta–Bogor KM30 Kecamatan Cimanggis Kota Depok, menjadi lahan kosong tak berpenghuni. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Sempat menjadi hotel tersohor di kawasan Depok dengan segudang kisahnya. Hotel Genggong Dua yang berdiri sekitar 1980-an, Jalan Raya Jakarta–Bogor KM30 Cimanggis, kini bak bangunan tua yang tak berpenghuni.

Laporan : Lutviatul Fauziah, Kota Depok 

RADARDEPOK.COM – Rabu (4/12) siang, Hotel Genggong Jalan Raya Jakarta–Bogor KM30 Kecamatan Cimanggis, sangat terik. Seorang penjaga hotel,  Sukatno sedang duduk santai di depan kamar hotel. Ditemani secangkir kopi, pria bertopi ini sedang melihat situasi. Sukatno merupakan pegawai hotel yang jaya pada 1990-an ini. Dia cukup fasih dengan seluk beluk, yang ada disekitaran hotel.

Pada saat hotel masih di kelola pemiliknya, hotel yang memiliki luas kurang lebih 1 hektar menjadi hotel yang cukup digemari. Selain memiliki fasilitas restoran dan kolam renang, Hotel Genggong juga memiliki danau, yang dapat memanjakan mata setiap pengunjungnya.

Saat itu pada 1990-an, hotel masih terurus. Tak jarang sejumlah keluarga di Kota Depok bermalam di sini. Hijaunya area ditambah dengan fasilitas yang memadai jadi pilihan. “Saat sang pemilik yang mengelola, banyak keluarag yang bermalam, tarifnya Rp450 ribu semalam,” ujar bapak berkaos orange ini.

Setelah sang pemilik dipanggil sang pencipta sekira Tahun 2000-an. Hotel ini dikelola anaknya. Sukatno juga kurang mengenal pemilik dan anaknya. Dia saat bekerja tidak dikenalkan. Sambil mengingat, Sukatno menyebut, hotel berubah drastis saat dikendalikan anaknya yang seorang perempuan.

Di tahun 2000-an, hotel di wilayah Cimanggis ini terkenal kembali. Tapi, bukan karena managemennya. Melainkan, tersohor sebagai tempat prostitusi. Harga yang terbilang murah, jadi pilihan pasangan tidak sah demi memuaskan nafsunya. Genggong, kata pria paruh baya ini, juga sering jadi ladang razia Satpol PP. Petugas sering mendapati pasangan mesum yang berada di hotel tersebut.

“Tidak seperti waktu dikelola sang ayah. Hotel ini lambat laun menjadi sepi pengunjung. Karena, sistem manajemen yang dikelolanya kurang baik,” jelas dia.

Berjalannya waktu, hotel pun kurang terurus. Tarif yang ditawarkan juga semakin murah, sekitar Rp250 ribu semalam. Tepat tahun 2005,   hotel digemparkan penemuan mayat perempuan di kamar nomor 53.

“Waktu itu memang sempat terjadi pembunuhan disini, tepatnya di kamar 53 atas nama Dewi Damayanti,” ucapnya.

Sukatno mengungkapkan, pembunuhan diduga, karena sang pria memberikan bayaran yang tidak sesuai kepada perempuan yang disewanya. Setelah terjadi pembunuhan, hotel ini semakin sepi. Akibat sepinya pengunjung, hingga karyawan tidak diberikan gaji. Tak hanya itu, satu persatu karyawan pun mulai mengundurkan diri. Hingga akhirnya hotel tersebut ditutup pada 2012.

Sempat terbengkalai dengan waktu yang cukup lama, hotel ini dibiarkan tak terurus. Hingga disebut-sebut sebagai tempat yang memiliki kekuatan supranatural yang cukup kuat.

Saat ini semua bangunan sudah hancur tak terurus. Namun, masih ada beberapa barang yang tersisa di dalam bangunan, seperti kasur, sofa serta lemari pakaian.

“Waktu itu, barang yang kondisinya masih bagus sempat dijual kepada warga sekitar. Sebagian juga ada yang dibakar. Dan ada beberapa yang masih tersisa namun dalam kondisi yang sudah tidak layak pakai,” tambahnya.

Sukatno pun menceritakan, selama menjaga Hotel Genggong ini, memang sering merasakan hawa-hawa supranatural. Terutama untuk bagian danau, kolam renang serta kamar yang menjadi tempat pembunuhan.

“Saya yang sudah setiap hari disini aja memang selalu merasakan hal yang berbeda. Dari awal masuk gerbang aja pasti yang masuk sudah bisa merasakan,” jelasnya.

Saat ini memang masih dibiarkan terbengkalai. Jika sore hari, banyak anak kecil dan warga sekitar yang bermain di kawasan hotel ini. Setelah bangkrutnya hotel ini, pemiliknya hampir tidak pernah datang mengunjungi. Apalagi melakukan koordinasi dengan pihak yang menjaga. “Kita juga belum tau kedepannya mau diapakan, yang jelas memang belum ada informasi, apakah mau dijual atau mau dilakukan perbaikan,” tutupnya. (rd)

 

Editor : Pebri Mulya