penderita AIDS
MEMANDANG : AW sedang melihat indahnya Kota Depok dari salah satu apartemen di Jalan Margonda Raya, Minggu (01/12). FOTO : LULU/RADAR DEPOK
penderita AIDS
MEMANDANG : AW sedang melihat indahnya Kota Depok dari salah satu apartemen di Jalan Margonda Raya, Minggu (01/12). FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM – Hari Aids sedunia jatuh pada 1 Desember. Sangat jarang ODHA membuka diri untuk berbagi cerita. Berikut penelusuran jurnalis Radar Depok, Lutfiatul Fauziah dan Arnet Kelmanutu.

Warga Peduli Aids (WPA) Kecamatan Pancoranmas Depok, melaksanakan giat di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Depok, Sabtu (30/11). Kegiatan yang dimulai pukul 08:00 pagi pun, dihadiri Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang ada di Kota Depok. Di tengah meriahnya suasana acara, tidak ada satupun yang mau membuka diri kepada Radar Depok. Mereka cenderung menutun statusnya.

Usaha hari itu hampir tertutup. Beruntung saat ingin pulang, salah satu ODHA yang juga hadir dalam kesempatan tersebut menghampiri. Hanya saja, sebut saja AW ingin berbagi kisah di lokasi lain.

AW remaja berusia 23 tahun ini mengajak ke food court dekat dengan lokasi acara. Dia bersedia membagikan kisahnya selama empat tahun menjalani hidup dengan HIV. Sembari menyeruput air, AW mengaku, semenjak divonis dokter pada 2015 silam penderita HIV. Dia tidak begitu kaget, karena memang udah mengetahui akibatnya dari apa yang telah dilakukan selama ini.

Pada 2015, awalnya dia masuk Rumah Sakit karena penyakit Tb paru (Pneumonia). Setelah pulang kerumah, keesokannya kembali dirawat di rumah sakit. Di hari kedua dilakukan pengecekan, ternyata benar hasilnya positif HIV.

“Kelurga semua sempat syok dengan vonis dokter, dan ada beberapa pihak keluarga yang tidak menerima keadaan ini. Sampai ada pihak keluarga yang sudah menyiapkan peti mati untuk saya,” ucap AW tersenyum simpul.

Bahkan, teman-temannya pun banyak yang menjauh setelah tau penyakit yang diderita AW, terutama teman di kampusnya.

“Mereka selama aku di rumah sakit, nanya diruang apa dan sakit apa. Tapi, ketika sudah dikasih tau ternyata apa. Mereka satupun gak ada yang datang,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, setelah kembali ke kampus semua menjauh, hanya ada beberapa teman yang mau menerimanya dengan keadaan dirinya saat itu.

Ketika semua orang yang mendapat vonis HIV merasa sedih, AW justru malah tertawa. Karena dia tau yang dilakukan akan menimbulkan penyakit seperti ini.

“Saya pun sudah merasakan gejala-gejalanya, jadi udah engga kaget. Misalnya, berat badan saat itu turun secara drastis, tumbuhnya jamur pada mulut dan lidah serta termasuk penyakit TB paru (Pneumonia),” tambahnya.

Dia berkisah, karena kurangnya perhatian dari orang tua, serta pernah merasakan sakit hati oleh pacar perempuannya. Membuat, pria berusia 23 ini akhirnya menjalani hubungan seksual dengan sesama jenis, mulai dari kelas 1 SMP.

Setelah divonis pada 2015, akhirnya lambat laun keluarga dan temannya bisa menerima keadaannya saat ini. Dia pun tak mau terpuruk dengan apa yang dialaminya. Dia berusaha bangkit dan mengikuti organisasi yang berisikan orang yang senasib dengannya.

Tak langsung berhenti total, setelah 2015 dia masih menjalani kehidupan seksual sesama jenis dengan menggunakan pengaman. Pada 2018, akhirnya ia bisa meninggalkan kehidupan kelamnya secara total.

Saat ini pun, ia sudah mampu beraktifitas seperti orang biasa, dia aktif di organisasi dan bekerja freelace. Ia pun sudah open status kepada siapapun dengan apa yang dideritanya. Menurutnya, apapun tanggapan orang lain terhadap dirinya, dia tak mau ambil pusing.

Ia pun berpesan, agar teman-teman seperjuangan nya dapat bangkit dari keterpurukan dan menjalani hidup dengan damai.

Kisah AW, bereda dengan AD. Disambangin di kediamannya, di Kelurahan/Kecamatan Cilodong AD sedang asik bersantai. Pria berusia 45 tahun ini langsung berbuka cerita. Maklum saat dihubungi Radar Depok ingin mengetahui perjalanan hidupnya kenapa bisa seperti ini.

Pergaulan bebas di awal tahun 1990 mengajak AD terjerumus ke dalam lubang hitam. Penggunaan narkoba jenis putau dengan cara disuntik membuat perawakan AD saat itu sangat kusam. Bintik hitam terlihat jelas pada kulit pria yang sudah memiliki lima orang anak itu. Hingga, akhirnya pada 202 di divonis dokter terjangki virus HIV/AIDS.

“SMA kelas 1 saya mulai pake jarum suntik, itu karena ke bawa lingkungan atau tongkrongan yang memang era nya putau lagi keren waktu itu,” ungkapnya diteras depan rumahnya.

AD dengan kepala pelontosnya menjelaskan, pertama mengetahui terserang virus tersebut usai dia menikah dengan kekasih sejatinya HR (inisial). Tak ada kekhawatiran berlebih pada kekasihnya. Justru dia yang sangat takut, hingga menangis bahkan tertekan berhari-hari, bulan dan tahun.

“Saya takut banget, menangis tiap malam, ingin bunuh diri minum baygon. Sampai dirawat di rumah sakit hampir sebulan,” paparnya.

Setelah beberapa tahun menikah. Lahir anak pertama, JF (inisial) membuat AD justru memiliki semangat hidup. Hal itu saat dokter menyatakan anaknya tidak terjangkit virus.

“Berdoa dan berobat, sama bekerja itu kuncinya, biar pikiran kita positif. Habisi waktu sama keluarga karena senyuman yang mereka kasih, semangat sekaligus penawar virus untuk saya,” tegasnya dengan mata berkaca.

Sekarang dia bekerja dengan rekannya yang pernah dijumpainya di Lapas Cipinang. Karena dia dua kali sempat bolak balik lapas, sebelumnya di salemba. “Sekarang kerja di Kuningan. Sampai sekarang juga masih minum obat sampai seterusnya saya meninggal,” tandasnya. (rd)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah), Arnet Kelmanutu (IG : @kelmanutuarnet)

Editor : Pebri Mulya