Penderita AIDS keluarga
HARMONIS : Samsu Budiman dan istrinya Radiaz Hages Trianda beserta dua anaknya menjalani hidup seperti layaknya orang lain. FOTO : ISTIMEWA
Penderita AIDS keluarga
HARMONIS : Samsu Budiman dan istrinya Radiaz Hages Trianda beserta dua anaknya menjalani hidup seperti layaknya orang lain. FOTO : ISTIMEWA

 

Berbeda dengan penderita yang menutup diri. Keluarga Samsu Budiman justru open status dari Orang Dengan HIV (Odip). Bersama istrinya Radiaz Hages Trianda begitu, ingin berjuang mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS di Depok.

Laporan : Fahmi Akbar, Kota Depok 

RADARDEPOK.COM – Di dalam rumahnya Jalan H M Tohir Kelurahan Pondok Cina, Beji Kota Depok. Terdapat beberapa poster dan majalah mengenai HIV/AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat Kuldesak, memang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba).

Siang kemarin, tidak begitu ramai yang lalu lalang, sunyi. Samsu Budiman mengajak masuk ke rumahnya yang juga menjadi sekretariat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kuldesak. Di dalam rumah, istrinya, Radiaz Hages Trianda menunggu sambil membaca dan mengurus anak bontotnya.

Samsu dan Hages merupakan pasangan suami-istri Odip. Mereka pernah mengalami masa-masa buruk ketika harus mendapati diri divonis positif HIV. Pernikahan mereka merupakan yang kedua.

“Kami ini pasangan duda-janda. Kami bertemu saat aktif di Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dulu,” jelas Samsu yang kini berusia 42 tahun.

Menimpali ucapan Samsu, Hages yang kini mengijak usia 37 tahun menyebut, dia tertular HIV dari suami pertamanya. Awalnya, tidak tahu suaminya positif HIV. Namun, dia tahu suaminya adalah mantan pengguna narkoba suntik yang berisiko tertular HIV.

“Ketika menikah pada tahun 2005, dia sudah lama sekali berhenti. Sudah tidak pakai lagi. Saya juga melihat dia sehat-sehat saja. Memang dia mengaku ada hepatitis,” tutur ibu anak empat ini.

Sambil momong anaknya yang baru berusia 1,5 tahun, Hages mengungkapkan perkenalan dengan suami pertamanya hanya berlangsung singkat. Masa pacaran berjalan tiga bulan. Setelah itu, langsung menikah. Pacaran singkat itu memang sesuai dengan permintaan Hages kepada suaminya. “Bila memang serius, saya minta segera dinikahi,” tutur Hages mengingat.

Sang pencipta memang begitu baik. Taklama setelah menikah, Hages pun langsung diberi hadiah : hamil. Masa kehamilan dan persalinan dilewati tanpa ada hambatan. Hages dan suaminya pun merasa sangat bahagia telah hadir anak pria setelah proses lahiran.

Sambil mengingat, kata Hages, kebahagian bersama suaminya tak berlangsung lama. Terhitung 40 hari setelah anaknya lahir, suaminya sekelibat jatuh sakit. Dalam waktu singkat, berat badan suaminya terjun bebas dari sebelumnya.

“Badannya kurus kering. Saat diperiksa dokter, ada tifus, ada demam berdarah. Saya bingung, kok, semua ada, komplikasi begitu” katanya.

Saat itu, dokter pun kemudian menanyakan latar belakang suaminya. Begitu mengetahui suami Hages mantan pengguna narkoba suntik, dokter langsung menyarankan melakukan tes HIV. Tak ingin berlama-lama, dia pun melakukan tes. Ternyata hasilnya positif.

“Saya juga langsung tes HIV. Saya khawatir positif juga dan menular ke anak saya. Ternyata saat itu hasil tes saya negatif. Jadi, saya terus menyusui anak saya,” kisah Hages.

Saat berusia tiga bulan, anaknya tiba-tiba jatuh sakit. Anak pertamanya itu mengalami diare akut dalam waktu lama. Khawatir anaknya positif HIV, dokter kembali menyarankan dilakukan tes kembali.

Bak disambar petir, dia harus menerima kenyataan bahwa anaknya dinyatakan positif HIV. Hasil tes dia menyatakan positiv HIV. Sebelumnya, dia dinyatakan negatif karena masih masa jendela, yaitu virus di dalam tubuhnya bersembunyi sehingga tidak terdeteksi.

“Saya hancur. Akan tetapi, dokter bilang, anak berusia di bawah 18 bulan masih meminjam sistem imun ibunya. Jadi, masih ada kemungkinan anak saya negatif,” tuturnya.

Kenyataan Hages dan anaknya positif HIV berpengaruh pada kesehatan suaminya. Suaminya merasa tertekan, karena sudah menulari Hages dan anaknya. Pengobatan yang dilakukan pun menjadi sia-sia, karena dia tidak memiliki semangat hidup. Akhirnya saat anak Hages berusia lima bulan, suaminya meninggal. Bukan karena sakit, melainkan karena depresi.

“Saat melihat jenazah suami, saya berpikir, kalau anak saya juga positif HIV, satu generasi akan hilang,” katanya.

Hages tak mau menyerah begitu saja. Dia ingin melihat apakah anaknya selamat dari virus HIV saat berusia 18 bulan.

“Saya berdoa semoga saya masih diberi hidup sampai anak saya 18 bulan. Saya penasaran. Saya ingin terus hidup untuk anak saya,” ujarnya.

Ketika anaknya berusia 18 bulan, dokter menyatakan negatif HIV. Seketika itu, semangat hidup Hages bertambah untuk merawat anaknya. Tepat 2010, tiba-tiba saja kesehatan Hages memburuk. Dia mengalami diare akut dan berat badannya menurun drastis. Dokter menyatakan dia sudah terkena AIDS stadium tiga.

“Saya sebelumnya memang tidak pernah mengonsumsi obat. Saya hanya mengandalkan semangat hidup saja, untuk membesarkan anak saya,” bebernya.

Sejak drop, dia pun mulai terapi obat-obatan. Setiap 12 jam, obat harus dia minum. Masa adaptasi selama enam bulan itulah yang sangat menyiksa. Hages mengatakan, efek dari obat-obatan itu berbeda bagi setiap orang. Bagi dia, obat itu membuat tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan terus-menerus muntah. Persendiannya pun terasa sakit, sehingga dia tidak bisa bergerak.

“Keluarga, terutama ibu yang merawat saya. Beliau bagaikan merawat dua bayi, yaitu anak saya dan saya. Pernah obat-obatan itu saya buang karena merasa tidak sanggup lagi minum obat. Namun, ibu dan anak saya memberikan semangat,” cerita mengulas.

Pada saat itulah, dia berdoa kepada Tuhan. Supaya bisa diberi kehidupan lebih panjang. Dia ingin bisa lebih bermanfaat bagi manusia sekitarnya. “Saya berpikir, mungkin selama ini saya terlalu sombong dan egois. Saya berdoa dan berjanji pada Tuhan, bila bisa melewati ini, akan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi sekitar,” katanya.

Cerita Hages, lain lagi dengan kisah Samsu. Sebelum ijab kobul dengan Hages, Samsu sudah pernah menikah. Dia juga dikaruniai anak pria. Dia ketahuan positif setelah 10 tahun berhenti menggunakan narkoba. “Saat itu saya sudah bercerai dengan istri pertama saya. Saya langsung mengontak dia supaya dia dan anak kami tes HIV. Ternyata hasilnya negatif,” tuturnya.

Pria yang kini berusia 42 tahun ini mengaku, sangat bersyukur karena tidak menularkan virus HIV kepada mantan istri dan anaknya. Tidak ingin orang lain tertular HIV, dia aktif di KDS dan mengampanyekan tentang virus dan penyakit tersebut.

Saat aktif di KDS dan LSM, Samsu bertemu dengan Hages. Karena memiliki kesamaan pemikiran dan merasa cocok, akhirnya pada awal 2012 menikah. Sebelum menikahkan Hages, mereka sudah membicarakan keinginan untuk memiliki anak. Akhirnya, konsultasi ke dokter. Dari hasil shering, kata dokter sangat memungkinkan. “Setelah menikah kami akhirnya menjalani program supaya bisa hamil dan melahirkan anak yang sehat,” jelas Samsu.

Pasangan Odip masih memungkinkan untuk memiliki anak tanpa menularkan virus HIV. Syaratnya, saat berhubungan suami istri, kondisi keduanya harus baik. CD4, atau tingkat imunitas tubuh, harus tinggi dan viral loud, tingkat virus HIV, harus tak terdeteksi.

“Akhir 2012 kami sudah memiliki anak lagi. Di luar program untuk memiliki anak itu, kami harus menggunakan kondom saat berhubungan. Itu karena virus yang ada di tubuh kami berbeda. Kalau bertemu bisa saling bermutasi,” beber Samsu.

Setelah menikah selama hampir tujuh tahun, empat anaknya berhasil terlahir sehat wal afiat. Kini anak pertamanya, sudah berusia 18 tahun, anak keduanya 13 tahun, anak ketiganya 7 tahun dan anak keempatnya yang sedang lucu-lucunya berusia 1,5 tahu.

“Odip juga bisa beraktivitas normal dan bermanfaat bagi orang lain. Jauhi virusnya, jangan orangnya,” terang Samsu berseloroh.

Kini Samsu dan Hages sudah menggeluti pencegahan dan penanggulangan HIV dan narkotika tergabung dengan Kuldesak. Hages dan Samsu mengatakan ODHA juga memiliki hak untuk hidup. Oleh karena itu, mereka berharap tidak ada lagi diskriminasi yang diterima ODHA. Itulah yang mereka kampanyekan saat ini.

Data terakhir pada Juli 2019, kata Samsu telah mendata sebanyak 790 penderita HIV AIDS di Kota Depok. Data tersebut dihimpun Kuldesak dari masyarakat yang terjangkau Kuldesak. “Kami belum mendata seluruhnya di Kota Depok,” terangnya.

Dari data yang dimiliki Kuldesak, 790 penderita HIV/AIDS tersebar di Kota Depok. Jumlah tersebut terdiri dari 523 laki-laki, dan 267 perempuan. Sementara berdasarkan kelompok umur, usia diatas 18 tahun paling banyak ditemukan dengan 742 penderita, sementara remaja antara 14-18 tahun terdapat 7 penderita, dan di bawah 14 tahun 41 penderita.

Jumlah tersebut, bertambah dari tahun sebelumnya, terdata terdapat 58 penderita baru yang tertular di tahun 2018, dari tahun sebelumnya terdapat 732 penderita.

Sejauh ini, Kuldesak baru mampu mendata 790 penderita, tentu masih banyak penderita HIV/AIDS yang ada di Kota Depok. “Kami berdua akan terus mengkampanyekan pencegahan dan penaggulangan ini,” tandasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya