mpek moy di cimanggis
INSPIRATIF : Owner MpekMoy, Sinta Damayanti (46) yang sedang menunjukan produknya di rumah produksinya, Jalan Impres CC II No.8 Komplek Timah, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. FOTO : LULU/RADAR DEPOK
mpek moy di cimanggis
INSPIRATIF : Owner MpekMoy, Sinta Damayanti (46) yang sedang menunjukan produknya di rumah produksinya, Jalan Impres CC II No.8 Komplek Timah, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Resign dari salah satu Bank swasta ternama, membuat Sinta Damayanti (46) harus memutar otak untuk terus menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ia pun memberanikan diri untuk terjun ke bisnis kuliner. Meski tidak langsung berjalan mulus dan beberapakali pindah toko dan mengubah produknya. Hingga akhirnya menemukan produk yang pas, yaitu pempek “MpekMoy.”

Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Bekerja sebagai karyawan di salah satu Bank ternama, membuat Sinta Damayanti tak memiliki waktu yang banyak untuk berkumpul bersama keluaraga. Pada tahun 2006, akhirnya ia memutuskan untuk resign dan ingin mencoba menekuni dunia usaha.

Bermodalkan uang pesangon, ia beranikan diri untuk membuka usaha kue dan menyewa tempat di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Saat itu, ia sama sakali belum paham dengan dunia bisnis. Yang ada dipikirannya, berapa yang diinvestasikan akan kembali melebihi itu.

Pada kenyataannya, banyak biaya tak terduga yang harus dikeluarkan, hingga menguras habis semua tabungannya serta tidak adanya pemasukan sama sekali. Belum mencapai satu tahun, akhirnya usaha yang dijalani harus berhenti.

Tidak sampai di situ, wanita berusia 46 tahun ini mencoba mengikuti kursus pembuatan roti manis, dan dirinya kembali bangkit lagi, mencoba peruntungan pada bisnis roti. Saat itu, ia memiliki tiga orang karyawan yang bekerja untuk membantu dirinya memproduksi roti hingga pemasaran. Ia menitipkan rotinya diwarung-warung kecil pinggir jalan serta kantin sekolah.

Karena adanya kenaikan bahan baku yang melonjak tinggi, membuat usaha nya kembali bak diterpa angin kencang. Dirinya pun, tak mampu mempertahankan usaha miliknya tersebut karena kalah saing dengan roti yang sudah memiliki brand.

Tak berselang lama, ia kembali membuka usaha bubur udang di depan Universitas Nasional dilanjutkan dengan ayam bakar dan goreng, namun semua tak berjalan lama. Karena, sakit yang dideritanya, maka ia memutuskan untuk off selama satu tahun demi penyembuuhan.

Dalam kondisi penyembuhan, ia tak hanya berdiam diri dirumah saja. Ia kembali mengikuti kursus, kali ini kursus membuat pempek. Di tahun 2010, ia memutuskan untuk pindah tempat tinggal dari Jakarta ke Depok.

“Kami kembali mencoba peruntungan dengan berjualan pempek di Jalan Juanda setiap Minggu pagi. Tetapi, kembali kami harus menutup usaha tersebut karena lapak yang strategis di pindah oleh preman yang berjaga. Kami dipindah ke ujung lapangan yang becek dan sepi, tadinya kami posisi di lapak trotoar pinggir jalan,” jelas Sinta.

Setelah itu, ibu dari dua anak ini ikut bergabung dengan UKM dilingkungannya. Sampai saat ini, akhirnya ia sudah membuka dua toko di Pesona square food avenue lt.2 dan Cafe Timah yang sekaligus menjadi rumah produksinya, di Jalan Impres CC II No.8 Komplek Timah, Kelurahan Tugu, Cimanggis.

Dengan kerja keras, serta usaha yang pantang menyerah menjadikan dirinya saat ini menjadi pengusaha yang berhasil. Produk yang ia buat pun tak perlu diragukan, ia menggunakan ikan tenggiri segar pilihan dan cuko asli dari Linggau.

“Untuk legalitas, produk kami sudah ada label halal dan sedang menuju MD dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ucapnya.

Dengan kerja kerasnya, ia mampu mengantongi keuntungan antara Rp75 juta sampai Rp 90 juta per bulan dengan enam orang karyawan untuk membantu produksi dan penjualan di dua gerainya.

Untuk harga yang ditawarkan pun, mulai dari Rp3.500 hingga Rp38 ribu saja. Ia sangat tidak menyangka, dengan apa yang sudah ia capai. Semua cobaan mampu ia lalui dengan lapang dada. Ia terus berucap syukur atas nikmat yang telah Allah turunkan kepada dirinya.  (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebri Mulya)