Beranda nasional Penanganan Jangka panjang, menengah, dan pendek

Penanganan Jangka panjang, menengah, dan pendek

0
Penanganan Jangka panjang, menengah, dan pendek
Pengamat Sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devi Rahmawati.
Pengamat Sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devi Rahmawati.
Pengamat Sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devi Rahmawati.

 

TAK kunjung menurunya penderita AIDS di Kota Depok mendapat tanggapan dari pengamat sosial dan DPRD Kota Depok. Pengamat Sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devi Rahmawati mengatakan, menekan angka penderita Aids di Kota Depok, perlu ada pendekatan jangka panjang, menengah, dan pendek.

Devi menjelaskan, jangka panjang berorientasi pada pencegahan peningkatan orang dengan resiko AIDS, yang ditengarai dari perilaku sosialnya. Seperti hubungan seks yang tidak bertanggungjawab dan gaya hidup tidak sehat dengan menggunakan narkoba.

“Hal itu dapat di lakukan Pemerintah Kota Depok melalui berbagai cara,” ujar Devi kepada Radar Depok.

Devi membeberkan, Pemerintah Kota Depok dapat menguatkan dengan sejumlah kegiatan dengan menyosialisasikan yang kuat dan berkelanjutan untuk pencegahan. Dimulai dengan pendidikan komunikasi personal dan gaya hidup, wajib di sekolah lewat kurikulum, guna tidak satupun pelajar yang tidak mendapatkannya.

Pemerintah Kota Depok dapat mengajak orang tua diberikan pembinaan, agar memiliki pengetahuan tentang materi pendidikan komunikasi personal dan gaya hidup. Ini guna memiliki kesamaan visi dengan pemerintah dan sekolah. Tidak hanya itu, Pemerintah Kota Depok dapat melibatkan masyarakat untuk mengawasi lingkungannya masing-masing.

Untuk jangka menengah, sambung Devi Pemerintah Kota Depok dapat melakukan pemeriksaan berkala bagi masyarakat, untuk mendata siapa yang sudah terinfeksi. Masyarakat yang mengidap Aids dirangkul untuk melakukan perawatan kesehatan intensif. Untuk jangka pendek, Pemerintah Kota Depok dapat menggandeng stakeholder untuk memberlakukan aturan jam malam, sweeping tempat tempat yang diduga berpotensi menjadi kawasan praktik gaya hidup tidak sehat.

“Hal tersebut dapat dilakukan secara rutin untuk mencegah penyakit Aids di Kota Depok,” terang Devi.

Devi mengungkapkan, sebagai kota penyangga yang menjadi pusat tinggal masyarakat yang mengadu nasib di Jakarta. Potensi Kota Depok menjadi kawasan yang tidak sehat dan aman menjadi besar. Karena konsentrasi penduduk berada di Kota Depok. Catatan di dunia, selain Aids, kawasan padat penduduk memiliki potensi terjangkiti penyakit terkait kelahiran, gizi anak, kebersihan sanitasi, dan TBC.

“Kompleksitas ini yang melahirkan persoalan sosial yang kompleks,” ucap Devi.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Lahmudin mengatakan, masih tingginya penderita Aids Di Kota Depok, diakibatkan pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan dampak negatif. Hal itulah yang menyebabkan berkembangnya penyakit Aids di Kota Depok.

“Ada sejumlah pola hidup masyarakat yang mengakibatkan berkembangnya penyakit Aids,” ujar Lahmudin.

Lahmudin menjelaskan, pola hidup yang berdampak terhadap Aids, yakni maraknya pergaulan bebas yang tidak terpantau. Ketidak pahaman atau kurang disiplinnya pengidap HIV, sehingga berkembang menjadi Aids. Pola hidup masyarakat yang semakin jauh dari nilai agama, tidak mengerti tujuan hidup, dan sejumlah permasalahan sosial lainnya.

Pemerintah Kota Depok, lanjut Lahmudin dapat melakukan berbagai hal kepada masyarakat, seperti melakukan penyuluhan di setiap tempat, memberdayakan puskesmas baik di tingkat UPT maupun UPF. Menggandeng kader maupun setiap elemen organisasi memberikan himbauan kepada masyarakat tentang Aids, dan memberikan himabauan di tempat umum. “Patroli keliling bersama aparat keamanan perlu dilakukan ketempat yang rawan penyebaran penyakit Aids,” ucap Lahmudin. (rd)

 

Jurnalis : Dicky Agung Prihanto (IG : @iky_slank)

Editor : Pebri Mulya