Beranda Metropolis Resign Kerja Pilih Bisnis Souvenir : Optimis Buka Bisnis, Ingin Bahagiakan Orang Tua

Resign Kerja Pilih Bisnis Souvenir : Optimis Buka Bisnis, Ingin Bahagiakan Orang Tua

0
Resign Kerja Pilih Bisnis Souvenir : Optimis Buka Bisnis, Ingin Bahagiakan Orang Tua
SUKSES: Sri Wulandari bersama Widiantoro dalam lauching buku berjudul Kesalahan-kesalahan Dalam Berbisnis di gedung Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Lenteng Agung, Jakarta Selatan. FOTO : LUTVIATUL FAUZIAH/RADAR DEPOK
boks kuliner depok
SUKSES : Sri Wulandari bersama Widiantoro dalam lauching buku berjudul Kesalahan-kesalahan Dalam Berbisnis di gedung Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Lenteng Agung, Jakarta Selatan. FOTO : LUTVIATUL FAUZIAH/RADAR DEPOK

 

Setelah resign kerja di akhir 2006, Sri Wulandari coba merambah bisnis dengan modal yang ia pinjam dari salah satu bank syariah di Kota Depok. Ia gunakan modal pembelian bahan baku, dan sewa ruko.

 Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Perempuan berhijab ini pada akhir 2006 memilih resign dari pekerjaannya, dan mencoba peruntungan lain. Satu tempat ke tempat lain ia berpindah, tetapi kesempatan belum berpihak pada dirinya.

Sri Wulandari mengaku, pada 2007 banyak kegagalan dan benturan yang ia alami. Sebelum memiliki toko pada 2009, ia bersama suami tak sengaja ketika mengitari Jalan Margonda melihat sejumlah toko percetakan dan souvenir, dari sisi ekonomi potensinya cukup besar.

Maka sejak saat itulah, ia memutuskan untuk menggeluti bisnis souvenir. Memproduksi barang jenis Pin, Mug, Plakat, Goodybag, hingga Note.

Sri mengaku, ketika itu ia dan suami belum mempunyai modal. Sambil terus bersalawat, agar Allah SWT memudahkan jalan segera memiliki toko di wilayah itu. Pada akhir 2012 ada suatu hal yang membuat dirinya terharu, terdapat sebuah toko yang ia lirik untuk dijadikan tempat usaha. Namun, ketika itu ia hanya memiliki tabungan Rp1,2 juta.

“Ketika itu kami hanya memiliki satu mesin pin, dan itu pun boleh pinjam. Beberapa komputer versi lama, tabung, serta mesin printer masih hitam putih,” ucap Sri kepada Radar Depok.

Salah satu toko berukuran 2 x 3,5 meter sering kali mereka lihat tidak ramai dan sering tutup. Sri berinisiatif mengajak kerjasama rekannya, dan harus berbagi tempat.

“Sejak awal saya optimis, memiliki impian besar. Karena saya ingin membahagiakan orang tua, ingin memberdayakan teman, dan berkontribusi terhadap ekonomi umat,” tutur Sri berkaca-kaca.

Kemudian pada pertengahan 2013, ia memutuskan tidak lagi bergabung dengan temannya. Bermodalkan sepeda motor, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman kredit usaha kepada salah satu bank syariah di Kota Depok. Akhirnya ia dapatkan modal sebesar Rp5 juta guna menambah bahan produksi.

Dalam jangka waktu satu tahun, ia mampu melunasi pinjaman tersebut. Dan mencoba kembali meminjam dengan nominal yang lebih besar, yakni Rp15 juta.

“Saya lihat ada toko kurang produktif, tapi punya potensi dikembangkan. Ya kami pilih ruko itu buat disewa berkat uang hasil pinjaman,” ujarnya. (rd)

 

Editor : Pebri Mulya